Friday, April 20, 2018

Mereka Bukan Anak-anak Cacat

Sejak saat itu, saya dan ibu merutinkan jalan pagi melewati rumah tersebut. Rutenya bertambah jauh, tapi kami yakin, ini seperti ditunjukkan Allah. Sehabis jalan pagi, kami bersholawat di depan rumah impian, dan kami pun pulang. Kami lanjutkan dengan Sholat Dhuha. Selang tiga bulan, rumah itu masih tetap ada papan dengan tulisan ‘Dijual’. Pada bulan keempat, pagi itu kami melihat seorang bapak yang sedang menyapu halaman depannya. Tulisan ‘Dijual’ pun sudah tidak ada. Saya dan ibu sedikit kaget. Tapi, ya sudahlah, mungkin belum rezekinya. Tidak disangka, kami yang sedang mencuri-curi pandang dipangggil oleh bapak yang sedang menyapu halaman tadi. Kami disuruh masuk untuk melihat-lihat keadaan rumah di dalamnya. Saya dan ibu lebih kaget, ternyata bapak itu seseorang yang dipercaya oleh pemilik rumah untuk menjaga kebersihan rumah. Dan yang lebih menggembirakan lagi, rumah tersebut belum terjual.

Pada bulan kelima, kami mengenal empunya rumah. Dengan kun fayakun-nya Allah, pada bulan ketujuh, kami resmi memiliki rumah tersebut. Allah benar-benar menurunkan rezekinya dan mempercayai kami untuk memiliki rumah lagi. Dahsyatnya sholawat itu bekerja pada kami.... Dari kejadian ini, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Intinya, bukan hanya sholawatnya yang bekerja, tapi keyakinan kita pada Allah jugalah yang bekerja. Sang Maha Pemilik Segalanya membuka kesempatan bagi kita untuk mendapatkan rezekinya. Dengan Sholat Dhuha, Tahajud, bersholawat, dan yang pasti tetap istiqomah. Jika pun tidak mendapatkan hasil yang sesuai kita inginkan, bukan berarti itu jelek. Tapi, Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita. Sabar, ikhlas, dan tetap berbaik sangka adalah kuncinya.

Mereka Bukan Anak-anak Cacat
Fitri Widya Seorang anak muda yang tengah mengejar tiga hal dalam waktu bersamaan, yakni studi, bekerja di perusahaan, sekaligus menjadi seorang pengusaha. Sosok anak yang dekat dengan orangtua dan pembawaannya selalu ceria. Ia tinggal di Klaten.

Mereka Bukan Anak-anak Cacat

Sabtu kemarin saya dan seorang teman pergi ke SGM (Solo Grand Mall). Sampai di lokasi, ternyata parkir penuh dan terpaksa memutar lagi. Akhirnya, kami parkir di sebuah gedung di seberang SGM. Begitu membuka pintu, terdengar azan magrib, dan kita putuskan Sholat Magrib terlebih dulu di gedung itu. Saya menginjakkan kaki dan melihat ke sekeliling, mengingat-ingat, sepertinya saya tidak asing dengan tempat ini. Ya, ini adalah Gedung YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat). Sebuah gedung yang sangat lekat dengan ingatan saya waktu kecil, dan tidak akan pernah saya lupakan. Di sini, saya ingin menceritakan sedikit tentang saya, keluarga, dan YPAC. Ketika itu, Bapak dan Ibu saya adalah guru SMA. Sepertinya, semua sudah tahu bahwa dulu, jarang sekali yang mau menjadi guru; tidak seperti sekarang. Gajinya kecil. Saking kecilnya, pada waktu Ibu saya mengandung adik saya yang kedua pada 1989, orangtua saya tidak ada anggaran untuk periksa USG. Pemeriksaan kehamilan hanya di bidan yang notabene, alatnya jadul. Jangankan periksa USG, untuk membayar rumah kontrakan dan kebutuhan lain saja harus hemat.

Dulu kami masih mengontrak rumah dan berpindah-pindah. Pun perawatan kehamilan yang hanya ala kadarnya. Setelah umur kehamilan menginjak bulan ketujuh, Ibu saya mengalami kontraksi hebat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Betapa kagetnya mereka, ternyata janin yang dikandung adalah anak kembar. Masyaallah. Kondisi Ibu dan kedua janin sudah tidak memungkinkan untuk tetap mempertahankan kandungan. Terpaksa kedua bayi harus segera dilahirkan. Bayi yang pertama lahir dengan selamat. Alhamdulillah. Namanya, Octaviani Widyasih, dipanggil Octa. Namun, bayi kedua hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Innalillahi. Saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya orangtua saya, yang hanya karena keadaan, mereka tidak mampu merawat kehamilan dengan maksimal.

Setelah berumur beberapa bulan, adik saya beberapa kali mengalami kejang, panas tinggi, dan akhirnya step. Akibatnya fatal. Adik saya mengalami kelainan. Tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, perkembangan otak juga terhambat. Sedih dan prihatin, tapi harus kuat demi anak-anak. Seperti itulah yang dirasakan orang tua saya. Tuhan tidak akan memberi cobaan, tanpa pula memberi hikmah.

Setelah kelahiran adik saya yang mempunyai kelebihan dari anak yang lain, orangtua saya bertekad berjuang lebih keras, demi hidup yang lebih baik. Bapak saya menjadi dosen di UNS dan mengajar juga di universitas-universitas lain. Ibu juga sangat tegar serta kuat berjuang dan mendukung, demi keluarga. Kelahiran Octa merupakan sebuah keajaiban di keluarga kami. Ia pendorong semangat, pembuka rezeki, dan penambah keimanan. Rumah yang dulu masih kontrak, sedikit demi sedikit orangtua saya mulai membangun rumah sendiri. Alhamdulillah, saat saya SD kelas 1, rumah sudah bisa ditempati. Orangtua saya begitu sayang pada Octa, sehingga setiap kali jalan-jalan ke rumah nenek atau saudara, ia selalu diajak, tanpa rasa malu, tanpa menganggap dia adalah beban. Ke mana-mana, kami naik motor berempat. Masih pula saya ingat, hujan-hujan kami naik motor memakai mantel hujan, sampai rumah tetap saja basah. Mungkin, itu yang menjadi tekad Bapak untuk membeli mobil, demi Octa. Demi keluarga. Alhamdulillah, saat saya SD kelas 5, keluarga kami sudah bisa naik roda 4, walaupun seadanya, asalkan tidak kehujanan.

YPAC. Yayasan Pendidikan Anak Cacat. Dulu, saya sering diajak ke sini untuk terapi Octa. Banyak anak-anak lain yang sama. Banyak sekali. Setelah beberapa tahun, akhirnya orangtua memutuskan untuk meminta terapis dan dokter saja yang rutin datang ke rumah. Waktu itu, saya masih sangat terlalu kecil untuk memahami kondisi Octa. Saya masih berpikir, dia hanya sakit biasa dan pasti bisa sembuh. Setelah sekolah, perlahan saya mulai tahu bahwa adik saya ber beda. Sempat saya marah pada Tuhan. Dia bisa menciptakan semua makhluknya sempurna, tapi kenapa tidak dengan adik saya. Saya juga merasa malu dan minder menceritakannya kepada teman-teman. Namun, setelah dewasa, perlahan saya mulai sadar bahwa semua kerja keras orangtua dan semua yang kami miliki saat itu, berkat Octa.

Saya mulai sadar bahwa sempurna bukan hanya soal fisik, tapi juga perannya sebagai manusia. Octa berperan hebat dalam keluarga kami. Dia sempurna. Tak terasa, Octa sudah berumur 17 tahun. Dia masih tidak bisa berbicara, berdiri, berjalan, duduk sendiri, apalagi main dan melakukan hal-hal lain, seperti ABG seusianya. Dia sangat suka nonton kartun dan sinetron. Sering tertawa sendiri, mengoceh sendiri dengan bahasanya yang kami tidak mengerti. Tapi dia hebat, tidak pernah menangis. Suatu hari, dia sakit dan panas tinggi. Kebetulan, dokter yang sudah biasa merawatnya sedang keluar kota dan tidak bisa datang, dan hanya diperiksa oleh dokter umum. Selang satu hari, Tuhan memanggilnya. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Ya, semua yang berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya. Tuhan merasa Octa sudah waktunya untuk pulang. Sudah cukup perannya dalam menyempurnakan keluarga kami. Orang tua dan keluarga kami sangat sedih dan kehilangan. Tapi kami yakin, Octa lebih berbahagia di sana. Dia bisa bernyanyi, menari, berlarian, dan bermain bersama teman-temannya di sana. Melakukan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan di sini.


Kembali ke suatu Magrib di YPAC. Saya shalat di dalam gedung. Melewati lorong-lorong itu dan shalat bersama anak-anak yang tinggal dan dirawat di situ. Subhanallah. Saya tidak berhenti meneteskan air mata. Saya sedih, prihatin melihat mereka. Saya merasa sangat bersyukur dan beruntung masih bisa mempunyai fisik yang sehat. Kata ‘anak cacat’ sebenarnya sangat mengganggu saya. Karena mereka bukan benda rusak atau gagal produksi. Mereka bukan anak-anak cacat. Mereka adalah anak-anak ajaib, anak-anak istimewa, anak-anak kesayangan Tuhan, yang dikirim untuk orangtua yang luar biasa. Untuk keluarga yang mempunyai saudara atau anak dengan keadaan sama seperti adik saya, bahagialah, syukurilah, dan sayangilah mereka. Kata Ibu, mereka adalah tabungan surga, kalau kau mengerti. Untuk adek, bahagia di sana, ya Sayang. Kamu tetap selalu menjadi keajaiban di keluarga kita. 
Comments


EmoticonEmoticon