Thursday, April 19, 2018

Beli Rumah dengan Sholawat

Manusia 4 kuadran yaitu manusia yang memiliki 4 hal sebagai berikut. E- Employee: Orang yang mendapatkan gaji karena bekerja. Contohnya sebagai karyawan. S- Self Employed: Orang yang kalau tidak melaksanakan aktivitas dia tidak mendapatkan uang. Contohnya, jadi dokter, tukang las, jualan bakso, atau bisa saya simpulkan, wiraswasta. B- Businessman: Orang yang punya uang digunakan untuk modal usaha dan dia ikut terjun dalam usaha tersebut. I- Investor: Orang yang punya modal lantas menanam modalnya dan dia tidak ikut terjun dalam kegiatan usaha tersebut. Dia akan mendapatkan bagi hasilnya. Dari ke 4 tersebut Mas Wantik hampir sudah semua. Keren. Momen di atas saya manfaatkan untuk minta izin ke Mas Wantik bahwa hari Rabu saya akan ke Kota Tegal karena mendapat undangan dari Pemerintah Tegal dan juga dalam rangka ingin menjadi self employed. Setelah itu, saya akan menjadi investor. Saat itu juga kami tertawa terbahak-bahak. Memang momen itu tepat sekali, karena pekerjaan saya di Cirebon juga sudah selesai. Tanpa pikir panjang, Mas Wantik langsung mengizinkan saya.

Pagi sampai sore saya menyelesaikan aktivitas kerja kemudian pesan tiket dari Cirebon ke Tegal. Rabu pagi saya berangkat ke Tegal naik kereta ekonomi Tegal Express. Luar biasa PT KAI sekarang sudah memberikan pelayanan yang maksimal. Kelas ekonomi sudah ber-AC. Perjalanan saya tempuh 1,5 jam. Sampai stasiun saya sudah ditunggu oleh Mas Seno.

Kami menuju ke kantor Pemkot Tegal untuk bretemu Kepala Dinas JDIH dan jajaran stafnya. Saya mulai presentasi soal sistem yang saya tawarkan. Presentasi dan diskusi dimulai pukul 11.45 dan selesai 14.30. Saya memohon izin untuk Sholat Dhuhur. Karena saya masih musafir, saya jamak qasar dengan Asar. Selesai sholat, saya berdoa dan mengingat kata-kata Mas Wantik saat jalan-jalan pagi tadi. Bahwa kita tidak boleh menekan Allah. Saat berdoa kita pasrahkan saja sama Allah. Akhirnya, doa yang keluar dari mulut saya, “Ya Allah, hamba sudah berusaha semaksimal mungkin. Selanjutnya semua hamba serahkan kepada-Mu, karena Engkau Maha Mengetahui. Kalau memang proyek ini baik untuk hamba maka mudahkanlah, ya Allah. Amin.”

Setelah itu, saya beranjak ke kantor JDIH untuk membahas anggaran, “Mas Sigit, kira-kira biayanya berapa dan butuh waktu berapa lama untuk pengerjaannya? Karena kita sudah didesak oleh waktu.” Karena sudah akrab saya langsung menjawab, “Saya kasih harga Rp30 juta, Pak. Itu sudah komplit sama pelatihan. Soal pengerjaan enggak lama, Pak. Insya Allah kalau kita deal, akhir September sudah selesai semua.” Mereka kemudian rapat internal membahas itu semua. Mereka ingin memutuskan saat itu juga karena mumpung ketemu dengan saya. Sambil mereka berdiskusi saya membaca Surat Al-Fatihah berkali-kali. Tidak tahu puluhan atau ratusan kali saya membacanya. Pokoknya saya baca. Sampai pada akhirnya beliau datang dan menawar di harga Rp25 juta. Karena, anggaran mereka Rp30 juta, sementara Rp5 juta untuk biaya berkas dan lain-lain, seperti Pajak PPN dan PPH serta biaya perjalanan. Akhirnya deal di harga Rp25 juta atau Rp30 juta include semua kegiatan, termasuk pajak dan lain sebagainya. Saat itu juga saya ucapkan, “Alhamdulillah, ya Allah. Engkau kabulkan doa hamba.”

Dengan peristiwa itu saya menjadi berpikir, berarti beras 3 karung itu tidak dibalas Allah saat saya mendapatkan pinjaman uang. Karena, saat saya mendapatkan pinjaman uang beras itu belum saya bayar. Karena, saya bayarnya kan masih besok, saat gajian. Sedangkan pada saat itu, belum gajian. Terus uang itu sebagai apa? Akhirnya saya simpulkan itu pertolongan Allah lewat sahabat saya. Saya lantas berpikir, balasan 3 karung beras itu apa? Saya simpulkan dan saya yakin, balasan dari 3 karung beras itu adalah proyek Pemkot Tegal senilai Rp30 juta. Karena, proyek itu terjadi setelah saya bayar lunas beras itu. Jadi, 3 karung berasku bernilai Rp30 juta.

Alhamdulillah, ya Allah. Hitungan matematika-Mu memang tidak ada yang bisa menebak. Kalau dihitung, seharusnya saya mendapatkan 10 x lipat saja. Lha ini ternyata dibalas 100 x lipatnya. Allahu Akbar, Allah Maha besar.

Beli Rumah dengan Sholawat

Beli Rumah dengan Sholawat

Wachyu Hidayah Anak muda yang sangat dekat dengan orangtua dan sangat ingin membahagiakannya. Tokoh multitalenta yang pandai memasak dan memainkan keyboard ini merasa rugi kalau tidak bisa shalat berjamaah. Ia percaya, doa orangtua termasuk faktor besar penentu kesuksesan seseorang.

Cerita ini bermula dari seringnya saya, ibu, dan bapak, menonton ceramahnya Ustad Yusuf Mansur tiap pukul 05.00 pagi yang ditayangkan sebuah televisi swasta. Selain menambah ilmu agama bagi saya dan keluarga, pembahasan materi pada setiap episodenya sangat mudah dimengerti. Materi beliau juga banyak men-share pengalaman pribadi. Menjadi lebih menarik, karena yang di-share adalah kisah nyata yang pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu episode yang saya ikuti adalah kisah dahsyatnya Sholawat Nabi. Pada episode tersebut, banyak cerita tentang orang-orang yang sukses meraih impian dan cita citanya dengan mendawamkan Sholawat Nabi. Salah satu kisah yang mengetuk hati saya adalah kisahnya Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang franchise-nya sudah tersebar di banyak tempat, seperti jamur yang tumbuh di musim penghujan. Semula, Mas Mono adalah seorang pegawai yang terkena PHK, karena perusahaan tempat dia bekerja bangkrut. Dia yang haqqul yaqin atas kebesaran Allah mendawamkan Sholawat Nabi dibarengi dengan Sholat Dhuha. Hingga akhirnya dia mendapat penghargaan Young Entreprenuer of Year dengan ayam bakarnya.

Ada lagi kisah beberapa orang yang ingin bisa pergi umroh dan haji. Dengan bermodal membeli lukisan Masjidil Haram dan memajang - nya di ruang tamu, lantas apa yang dilakukannya? Setiap hari mereka memandang lukisan tersebut sembari bersholawat dan memanjatkan doa agar diberi kemudahan untuk bisa berkunjung ke sana. Subhanallah, doa mereka dikabulkan, sehingga bisa pergi ke Tanah Suci.

Hal ini menggelitik saya dan keluarga adalah pertanyaan, masa sih bisa begitu? Di lain pihak, banyak juga yang beranggapan bahwa bersholawat sama halnya dengan mengagungkan Nabi, dan itu tidak diperbolehkan jika dilakukan secara berlebihan. Tapi bagi kami sekeluarga, itu tidak menjadi masalah, karena toh yang dilakukan itu benar. Bukan datang ke dukun, lantas meminta jampi-jampi.

Biasanya, setelah melihat tayangan Ustad Yusuf Mansur, ibu berlanjut dengan jalan pagi sembari mencari nasi kuning atau gorengan di sekitar rumah. Mencari sehat sekaligus jalan pagi ini saya manfaatkan untuk selalu berkomunikasi dengan ibu saya. Rute yang kami lewati biasanya di sekitar rumah dengan pemandangan bukit dan gunung yang masih asri, lalu masuk ke kompleks perumahan yang juga asri. Biasanya, jika masuk ke kompleks perumahan tersebut, kami hanya mencari nasi kuning, dan setelah dapat, langsung balik ke rumah. Suatu hari, penjual nasi kuning langganan kami tidak berjualan. Kami lantas ditunjukkan oleh seseorang bahwa ada penjual nasi kuning yang berjualan di blok kompleks lain. Dalam perjalanan menuju blok lain, kami melihat sebuah rumah indah dengan papan tulisan ‘Dijual’. Kami sempat berkeliling sejenak untuk sekadar melihat keindahan rumah tersebut. Tiba tiba ibu saya menyeletuk, “Eh, Mas Bayu (nama panggilan saya di rumah), bagaimana kalau kita praktikkan ilmu yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansur tentang dahsyatnya sholawat?” Saya jawab, “Ya, Mah. Setuju. Ayo kita buktikan.” Kebetulan, saat itu sepi. Jadi, saya dan ibu mendekati rumah tersebut. Tak cukup memandang, kami pun memegang pintu gerbangnya dan mulailah kami berdua bersholawat. Diawali dengan istigfar, lalu mengucapkan hamdalah, berlanjut dengan bersholawat, lalu berdoa. Doanya simpel, “Ya Allah, kami pengin punya rumah ini. Jika Engkau berkehendak, jadikanlah, Ya Allah. Amin.”

Comments


EmoticonEmoticon