Wednesday, April 18, 2018

3 Karung Berasku Bernilai Rp30 Juta

Qomary Sigit Seorang pengusaha muda bidang teknologi informasi. Pekerja keras dan hobi futsal. Ia sangat percaya, kesuksesan anak tergantung bagaimana ia memperlakukan orang tuanya. Sigit tinggal di Solo.  Kisah ini terjadi Agustus 2014.

Kemarin, setelah membaca tulisan seorang kawan, terdorong hati saya untuk berbagi pengalaman pula. Mudah-mudahan kisah ini bisa mendorong kita semua untuk selalu berbuat baik, kapan saja dan dalam keadaan seperti apa saja. Baik di kala longgar atau sempit. Kala sedang banyak rezeki maupun sebaliknya.

Bulan Agustus bisa dibilang titik paling rendah dalam perekonomian saya. Kebutuhan tetap, bahkan bertambah, sedangkan pendapatan tetap segitu-segitu saja. Bulan itu, proyek sepi. Ada satu proyek, tetapi nilai pembagiannya tidak masuk akal. Akhirnya saya lepas. Praktis, saya hanya punya pendapatan dari tempat kerja saya.

3 Karung Berasku Bernilai Rp30 Juta

Ada satu harapan dan menurut saya, merupakan harapan satu-satunya, yakni pengembalian modal dari usaha yang dulu saya bangun bersama teman. Akan tetapi, dari deadline yang dijanjikan hingga saat ini belum kunjung dikembalikan.

Saat hendak berangkat bekerja, istri saya berkata, “Pah, bayaran kakak bulan ini sudah ada? Sama biaya lainnya.” Saya jawab, “Sudah siap, tenang saja.”

Hari itu juga ada SMS dari keponakan, “Pah (semua keponakan memanggil saya Papa makanya anak saya banyak), Ibu enggak punya beras. Papa ada uang, tidak?” Hampir bersamaan, ada tagihan pengembalian down payment dari rekan yang cancel order pembuatan software. Masya Allah, semua berbarengan dan bertubi-tubi saya rasakan. Saya bingung harus mencari dari mana, sedangkan otak saya rasanya sudah buntu. Saya masih berharap, pengembalian modal itu akan berjalan seperti rencana semula.

Akan tetapi, semua tidak berjalan semudah yang saya bayangkan. Semua bercampur aduk menjadi satu dan berdampak pada kesehatan saya. Asma saya kambuh. Setiap malam, saya mengalami sesak napas. Sebenarnya, mudah untuk mengobatinya. Tinggal datang ke rumah sakit dekat rumah, kemudian di-nebulizer (penguapan), selesai, dan sembuh. Akan tetapi, permasalahan tidak semudah itu. Saat itu, saya tidak memiliki cukup uang hanya untuk nebulasi yang hanya Rp80 ribu. Akhirnya, saya hanya makan belimbing wuluh. Kata orang, itu obat tradisional untuk asma. Dengan membaca Bismillah, saya makan 1-3 buah. Rupanya, belum sembuh juga. Pikiran saya sudah ke mana-mana. Bayaran sekolah, tagihan, biaya bulanan untuk orang tua, dan terus terang, itu semakin membuat asma saya semakin parah.

Akhirnya, saya tidur di kursi luar untuk mendapatkan udara segar malam hari. Saat saya membawa bantal keluar, masya Allah, anak saya Xavier ikut menemani. “Papa, saya mau nemeni papa bobok di sini,” tutur Xavier. Dengan polosnya, dia tidur menemani saya. Saat dia sudah liyer-liyer, saya tidak tega. Saya ajak dia masuk untuk tidur di dalam. Saat itu, dia tidur di kamar bersama ibunya. Saya tidur di ruang kerja. Saya tidak bisa tidur, karena asma belum sembuh.

Akhirnya, sekitar pukul 02.45 saya tertidur karena kelelahan. Hal seperti ini berjalan selama dua hari. Pada saat seperti itu, Alhamdulillah saya masih diberi hidayah oleh Allah. Saya ingat kutipan yang pernah saya baca dari salah satu buku Ustad Yusuf Mansur, “Kalau rezekimu kurang, berarti sedekahmu kurang.” Dalam keadaan memiliki uang tidak lebih dari Rp60 ribu, saya berani memutuskan untuk membeli beras 3 karung dengan cara memotong gaji saya. Sejumlah 3 karung beras itu rencananya akan saya sedekahkan ke panti asuhan anak yatim dekat kantor. Kalau dinominalkan, tidak sampai Rp300 ribu. Dengan membaca Bismillah, saya serahkan ke panti asuhan tersebut. Saya minta ke beliau, penerima sedekah, untuk mendoakan usaha saya.

Hari ketiga, asma saya belum sembuh dan tidak ada titik terang dari pengembalian modal saya. Akhirnya, saya curhat ke sahabat saya. Saya sampaikan apa yang ada dalam pikiran saya dan kesulitan yang saya alami, sehingga membuat asma saya kambuh selama 3 hari, tidak sembuh-sembuh. Semula beliau menawarkan sebuah rumah di daerah Purbayan, kemudan saya bilang, “Lha kok beli rumah? Wong saya mau pinjem uang, kok.” Singkat cerita, beliau meminjami uang saya Rp3 juta. Wah, habis terima duit kepala saya terasa dingin. Apakah ini balasan dari 3 karung beras yang saya sedekahkan kemarin? Kalau benar, ya Allah, Engkau langsung membalasnya dengan cepat. Saya menghitung, kalau Rp300 ribu menjadi Rp3 juta berarti sedekahku diganti 10 x lipat oleh Allah.

Sore harinya, saya dikabari sudah ditransfer. Langsung saya ambil cash dan saya berikan kepada ibu saya, sebagian. Saya bilang, “Ibu, ini untuk beli beras.” Spontan ibu bertanya, “Lha dapat uang dari mana?” “Alhamdulllah, Bu. Ada yang pinjami saya uang. Sudah, ibu tidak usah memikirkannya. Insya Allah saya sanggup mengembalikannya.” Ibu diam sejenak, kemudian berkata, “Ya, Nak. Ibu doakan kamu lancar rezekimu, biar bisa bayar utangmu.” “Amin,” sahut saya.

Habis dari rumah ibu, saya ke rumah sakit untuk periksa. Alhamdulillah, setelah di-nebula, saya bisa bernapas lega. Saya pulang ke rumah. Saya berikan pada istri untuk biaya sekolah dan lainnya. Spontan istri juga bertanya, “Dapat uang dari mana?” Saya jawab, “Sudah, itu dipakai untuk bayar. Ada sisa sedikit, saya pakai untuk cicil DP yang cancel order kemarin.”

Sejenak pikiran saya longgar karena permasalahan di atas sudah terselesaikan dengan uang pinjaman tadi. Rupanya ini tidak berlangsung lama. Tiba-tiba handphone jadul saya bergetar. Ada SMS masuk. Saya baca ternyata dari debt collector. “Mau ditransfer kapan, Bos, cicilan bulan ini?” Masya Allah, spontan kepala saya kembali cenat-cenut. Lagi-Lagi saya berharap modal usaha yang dijanjikan dari Juli itu dikembalikan sesuai janji. Bisa dibilang, pengembalian modal itu lebih dari cukup untuk menutup kekurangan cicilan mobil sampai lunas. Sampai hari yang ditentukan, tidak ada kabar soal pentransferan modal dari rekan saya.

Akhirnya, debt collector datang ke rumah ibu. Sedangkan ibu tidak tahu apa-apa. Ibu panik. Keponakan SMS saya, “Pah, ada leasing nagih.” Saya jawab, “Iya, Nak. Ini uang Papa masih kurang.”

Minggu, 31 Agustus 2014, saya tugas ke Kota Cirebon bersama Mas Wantik, Mbak Egha, dan driver. Bismillah, kami berangkat dari Solo. Tak lupa saya berpamitan kepada kedua orangtua saya. Kami terkena macet hampir 2,5 jam di Semarang.

Tiba di Cirebon kurang lebih pukul 03.45. Kami menunggu Subuhan sambil rebahan. Habis sholat Subuh, kami beristirahat. Saya bangun sekitar pukul 08.00, karena badan saya kurang sehat. Saat bangun, ada 1 SMS yang belum saya baca di handphone jadul saya. Ada pengirim yang nomornya belum saya simpan. Kurang lebih isinya seperti ini, “Pak Sigit, saya dapat info dari Bagian Hukum Solo bahwa Pak Sigit yang buat website Pemkot Solo. Kami ingin bekerja sama dengan Pak Sigit perihal pembuatan web serupa. Seno Bagian Hukum Pemkot Tegal.” Alhamdulllah. Rezeki pagi hari. Setelah itu, saya melaksanakan tugas di kantor Cirebon. Koordinasi dengan tim TI di sana.


Hari itu, saya kerja tidak full. Habis Sholat Asar saya masuk mess untuk istirahat, karena kurang enak badan. Hari Selasa pagi, seperti biasa kami mencari sarapan. Sambil sarapan, setelah mengobrol soal politik, Mas Wantik tiba-tiba ngomong, “Saya pengin jadi manusia 4 kuadran, Bro.” Spontan saya bertanya, “Apa itu, Pak?” “Wah, nanti saja, Bro, kita kuliah 15 menit di kantor,” jawab Mas Wantik. Setibanya di kantor, Mas Wantik langsung memberi kuliah singkat kepada saya tentang manusia 4 kuadran. Kurang lebih seperti ini. 

Comments


EmoticonEmoticon