Friday, April 20, 2018

Mereka Bukan Anak-anak Cacat

Sejak saat itu, saya dan ibu merutinkan jalan pagi melewati rumah tersebut. Rutenya bertambah jauh, tapi kami yakin, ini seperti ditunjukkan Allah. Sehabis jalan pagi, kami bersholawat di depan rumah impian, dan kami pun pulang. Kami lanjutkan dengan Sholat Dhuha. Selang tiga bulan, rumah itu masih tetap ada papan dengan tulisan ‘Dijual’. Pada bulan keempat, pagi itu kami melihat seorang bapak yang sedang menyapu halaman depannya. Tulisan ‘Dijual’ pun sudah tidak ada. Saya dan ibu sedikit kaget. Tapi, ya sudahlah, mungkin belum rezekinya. Tidak disangka, kami yang sedang mencuri-curi pandang dipangggil oleh bapak yang sedang menyapu halaman tadi. Kami disuruh masuk untuk melihat-lihat keadaan rumah di dalamnya. Saya dan ibu lebih kaget, ternyata bapak itu seseorang yang dipercaya oleh pemilik rumah untuk menjaga kebersihan rumah. Dan yang lebih menggembirakan lagi, rumah tersebut belum terjual.

Pada bulan kelima, kami mengenal empunya rumah. Dengan kun fayakun-nya Allah, pada bulan ketujuh, kami resmi memiliki rumah tersebut. Allah benar-benar menurunkan rezekinya dan mempercayai kami untuk memiliki rumah lagi. Dahsyatnya sholawat itu bekerja pada kami.... Dari kejadian ini, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Intinya, bukan hanya sholawatnya yang bekerja, tapi keyakinan kita pada Allah jugalah yang bekerja. Sang Maha Pemilik Segalanya membuka kesempatan bagi kita untuk mendapatkan rezekinya. Dengan Sholat Dhuha, Tahajud, bersholawat, dan yang pasti tetap istiqomah. Jika pun tidak mendapatkan hasil yang sesuai kita inginkan, bukan berarti itu jelek. Tapi, Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita. Sabar, ikhlas, dan tetap berbaik sangka adalah kuncinya.

Mereka Bukan Anak-anak Cacat
Fitri Widya Seorang anak muda yang tengah mengejar tiga hal dalam waktu bersamaan, yakni studi, bekerja di perusahaan, sekaligus menjadi seorang pengusaha. Sosok anak yang dekat dengan orangtua dan pembawaannya selalu ceria. Ia tinggal di Klaten.

Mereka Bukan Anak-anak Cacat

Sabtu kemarin saya dan seorang teman pergi ke SGM (Solo Grand Mall). Sampai di lokasi, ternyata parkir penuh dan terpaksa memutar lagi. Akhirnya, kami parkir di sebuah gedung di seberang SGM. Begitu membuka pintu, terdengar azan magrib, dan kita putuskan Sholat Magrib terlebih dulu di gedung itu. Saya menginjakkan kaki dan melihat ke sekeliling, mengingat-ingat, sepertinya saya tidak asing dengan tempat ini. Ya, ini adalah Gedung YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat). Sebuah gedung yang sangat lekat dengan ingatan saya waktu kecil, dan tidak akan pernah saya lupakan. Di sini, saya ingin menceritakan sedikit tentang saya, keluarga, dan YPAC. Ketika itu, Bapak dan Ibu saya adalah guru SMA. Sepertinya, semua sudah tahu bahwa dulu, jarang sekali yang mau menjadi guru; tidak seperti sekarang. Gajinya kecil. Saking kecilnya, pada waktu Ibu saya mengandung adik saya yang kedua pada 1989, orangtua saya tidak ada anggaran untuk periksa USG. Pemeriksaan kehamilan hanya di bidan yang notabene, alatnya jadul. Jangankan periksa USG, untuk membayar rumah kontrakan dan kebutuhan lain saja harus hemat.

Dulu kami masih mengontrak rumah dan berpindah-pindah. Pun perawatan kehamilan yang hanya ala kadarnya. Setelah umur kehamilan menginjak bulan ketujuh, Ibu saya mengalami kontraksi hebat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Betapa kagetnya mereka, ternyata janin yang dikandung adalah anak kembar. Masyaallah. Kondisi Ibu dan kedua janin sudah tidak memungkinkan untuk tetap mempertahankan kandungan. Terpaksa kedua bayi harus segera dilahirkan. Bayi yang pertama lahir dengan selamat. Alhamdulillah. Namanya, Octaviani Widyasih, dipanggil Octa. Namun, bayi kedua hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Innalillahi. Saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya orangtua saya, yang hanya karena keadaan, mereka tidak mampu merawat kehamilan dengan maksimal.

Setelah berumur beberapa bulan, adik saya beberapa kali mengalami kejang, panas tinggi, dan akhirnya step. Akibatnya fatal. Adik saya mengalami kelainan. Tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, perkembangan otak juga terhambat. Sedih dan prihatin, tapi harus kuat demi anak-anak. Seperti itulah yang dirasakan orang tua saya. Tuhan tidak akan memberi cobaan, tanpa pula memberi hikmah.

Setelah kelahiran adik saya yang mempunyai kelebihan dari anak yang lain, orangtua saya bertekad berjuang lebih keras, demi hidup yang lebih baik. Bapak saya menjadi dosen di UNS dan mengajar juga di universitas-universitas lain. Ibu juga sangat tegar serta kuat berjuang dan mendukung, demi keluarga. Kelahiran Octa merupakan sebuah keajaiban di keluarga kami. Ia pendorong semangat, pembuka rezeki, dan penambah keimanan. Rumah yang dulu masih kontrak, sedikit demi sedikit orangtua saya mulai membangun rumah sendiri. Alhamdulillah, saat saya SD kelas 1, rumah sudah bisa ditempati. Orangtua saya begitu sayang pada Octa, sehingga setiap kali jalan-jalan ke rumah nenek atau saudara, ia selalu diajak, tanpa rasa malu, tanpa menganggap dia adalah beban. Ke mana-mana, kami naik motor berempat. Masih pula saya ingat, hujan-hujan kami naik motor memakai mantel hujan, sampai rumah tetap saja basah. Mungkin, itu yang menjadi tekad Bapak untuk membeli mobil, demi Octa. Demi keluarga. Alhamdulillah, saat saya SD kelas 5, keluarga kami sudah bisa naik roda 4, walaupun seadanya, asalkan tidak kehujanan.

YPAC. Yayasan Pendidikan Anak Cacat. Dulu, saya sering diajak ke sini untuk terapi Octa. Banyak anak-anak lain yang sama. Banyak sekali. Setelah beberapa tahun, akhirnya orangtua memutuskan untuk meminta terapis dan dokter saja yang rutin datang ke rumah. Waktu itu, saya masih sangat terlalu kecil untuk memahami kondisi Octa. Saya masih berpikir, dia hanya sakit biasa dan pasti bisa sembuh. Setelah sekolah, perlahan saya mulai tahu bahwa adik saya ber beda. Sempat saya marah pada Tuhan. Dia bisa menciptakan semua makhluknya sempurna, tapi kenapa tidak dengan adik saya. Saya juga merasa malu dan minder menceritakannya kepada teman-teman. Namun, setelah dewasa, perlahan saya mulai sadar bahwa semua kerja keras orangtua dan semua yang kami miliki saat itu, berkat Octa.

Saya mulai sadar bahwa sempurna bukan hanya soal fisik, tapi juga perannya sebagai manusia. Octa berperan hebat dalam keluarga kami. Dia sempurna. Tak terasa, Octa sudah berumur 17 tahun. Dia masih tidak bisa berbicara, berdiri, berjalan, duduk sendiri, apalagi main dan melakukan hal-hal lain, seperti ABG seusianya. Dia sangat suka nonton kartun dan sinetron. Sering tertawa sendiri, mengoceh sendiri dengan bahasanya yang kami tidak mengerti. Tapi dia hebat, tidak pernah menangis. Suatu hari, dia sakit dan panas tinggi. Kebetulan, dokter yang sudah biasa merawatnya sedang keluar kota dan tidak bisa datang, dan hanya diperiksa oleh dokter umum. Selang satu hari, Tuhan memanggilnya. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Ya, semua yang berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya. Tuhan merasa Octa sudah waktunya untuk pulang. Sudah cukup perannya dalam menyempurnakan keluarga kami. Orang tua dan keluarga kami sangat sedih dan kehilangan. Tapi kami yakin, Octa lebih berbahagia di sana. Dia bisa bernyanyi, menari, berlarian, dan bermain bersama teman-temannya di sana. Melakukan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan di sini.


Kembali ke suatu Magrib di YPAC. Saya shalat di dalam gedung. Melewati lorong-lorong itu dan shalat bersama anak-anak yang tinggal dan dirawat di situ. Subhanallah. Saya tidak berhenti meneteskan air mata. Saya sedih, prihatin melihat mereka. Saya merasa sangat bersyukur dan beruntung masih bisa mempunyai fisik yang sehat. Kata ‘anak cacat’ sebenarnya sangat mengganggu saya. Karena mereka bukan benda rusak atau gagal produksi. Mereka bukan anak-anak cacat. Mereka adalah anak-anak ajaib, anak-anak istimewa, anak-anak kesayangan Tuhan, yang dikirim untuk orangtua yang luar biasa. Untuk keluarga yang mempunyai saudara atau anak dengan keadaan sama seperti adik saya, bahagialah, syukurilah, dan sayangilah mereka. Kata Ibu, mereka adalah tabungan surga, kalau kau mengerti. Untuk adek, bahagia di sana, ya Sayang. Kamu tetap selalu menjadi keajaiban di keluarga kita. 

Thursday, April 19, 2018

Beli Rumah dengan Sholawat

Manusia 4 kuadran yaitu manusia yang memiliki 4 hal sebagai berikut. E- Employee: Orang yang mendapatkan gaji karena bekerja. Contohnya sebagai karyawan. S- Self Employed: Orang yang kalau tidak melaksanakan aktivitas dia tidak mendapatkan uang. Contohnya, jadi dokter, tukang las, jualan bakso, atau bisa saya simpulkan, wiraswasta. B- Businessman: Orang yang punya uang digunakan untuk modal usaha dan dia ikut terjun dalam usaha tersebut. I- Investor: Orang yang punya modal lantas menanam modalnya dan dia tidak ikut terjun dalam kegiatan usaha tersebut. Dia akan mendapatkan bagi hasilnya. Dari ke 4 tersebut Mas Wantik hampir sudah semua. Keren. Momen di atas saya manfaatkan untuk minta izin ke Mas Wantik bahwa hari Rabu saya akan ke Kota Tegal karena mendapat undangan dari Pemerintah Tegal dan juga dalam rangka ingin menjadi self employed. Setelah itu, saya akan menjadi investor. Saat itu juga kami tertawa terbahak-bahak. Memang momen itu tepat sekali, karena pekerjaan saya di Cirebon juga sudah selesai. Tanpa pikir panjang, Mas Wantik langsung mengizinkan saya.

Pagi sampai sore saya menyelesaikan aktivitas kerja kemudian pesan tiket dari Cirebon ke Tegal. Rabu pagi saya berangkat ke Tegal naik kereta ekonomi Tegal Express. Luar biasa PT KAI sekarang sudah memberikan pelayanan yang maksimal. Kelas ekonomi sudah ber-AC. Perjalanan saya tempuh 1,5 jam. Sampai stasiun saya sudah ditunggu oleh Mas Seno.

Kami menuju ke kantor Pemkot Tegal untuk bretemu Kepala Dinas JDIH dan jajaran stafnya. Saya mulai presentasi soal sistem yang saya tawarkan. Presentasi dan diskusi dimulai pukul 11.45 dan selesai 14.30. Saya memohon izin untuk Sholat Dhuhur. Karena saya masih musafir, saya jamak qasar dengan Asar. Selesai sholat, saya berdoa dan mengingat kata-kata Mas Wantik saat jalan-jalan pagi tadi. Bahwa kita tidak boleh menekan Allah. Saat berdoa kita pasrahkan saja sama Allah. Akhirnya, doa yang keluar dari mulut saya, “Ya Allah, hamba sudah berusaha semaksimal mungkin. Selanjutnya semua hamba serahkan kepada-Mu, karena Engkau Maha Mengetahui. Kalau memang proyek ini baik untuk hamba maka mudahkanlah, ya Allah. Amin.”

Setelah itu, saya beranjak ke kantor JDIH untuk membahas anggaran, “Mas Sigit, kira-kira biayanya berapa dan butuh waktu berapa lama untuk pengerjaannya? Karena kita sudah didesak oleh waktu.” Karena sudah akrab saya langsung menjawab, “Saya kasih harga Rp30 juta, Pak. Itu sudah komplit sama pelatihan. Soal pengerjaan enggak lama, Pak. Insya Allah kalau kita deal, akhir September sudah selesai semua.” Mereka kemudian rapat internal membahas itu semua. Mereka ingin memutuskan saat itu juga karena mumpung ketemu dengan saya. Sambil mereka berdiskusi saya membaca Surat Al-Fatihah berkali-kali. Tidak tahu puluhan atau ratusan kali saya membacanya. Pokoknya saya baca. Sampai pada akhirnya beliau datang dan menawar di harga Rp25 juta. Karena, anggaran mereka Rp30 juta, sementara Rp5 juta untuk biaya berkas dan lain-lain, seperti Pajak PPN dan PPH serta biaya perjalanan. Akhirnya deal di harga Rp25 juta atau Rp30 juta include semua kegiatan, termasuk pajak dan lain sebagainya. Saat itu juga saya ucapkan, “Alhamdulillah, ya Allah. Engkau kabulkan doa hamba.”

Dengan peristiwa itu saya menjadi berpikir, berarti beras 3 karung itu tidak dibalas Allah saat saya mendapatkan pinjaman uang. Karena, saat saya mendapatkan pinjaman uang beras itu belum saya bayar. Karena, saya bayarnya kan masih besok, saat gajian. Sedangkan pada saat itu, belum gajian. Terus uang itu sebagai apa? Akhirnya saya simpulkan itu pertolongan Allah lewat sahabat saya. Saya lantas berpikir, balasan 3 karung beras itu apa? Saya simpulkan dan saya yakin, balasan dari 3 karung beras itu adalah proyek Pemkot Tegal senilai Rp30 juta. Karena, proyek itu terjadi setelah saya bayar lunas beras itu. Jadi, 3 karung berasku bernilai Rp30 juta.

Alhamdulillah, ya Allah. Hitungan matematika-Mu memang tidak ada yang bisa menebak. Kalau dihitung, seharusnya saya mendapatkan 10 x lipat saja. Lha ini ternyata dibalas 100 x lipatnya. Allahu Akbar, Allah Maha besar.

Beli Rumah dengan Sholawat

Beli Rumah dengan Sholawat

Wachyu Hidayah Anak muda yang sangat dekat dengan orangtua dan sangat ingin membahagiakannya. Tokoh multitalenta yang pandai memasak dan memainkan keyboard ini merasa rugi kalau tidak bisa shalat berjamaah. Ia percaya, doa orangtua termasuk faktor besar penentu kesuksesan seseorang.

Cerita ini bermula dari seringnya saya, ibu, dan bapak, menonton ceramahnya Ustad Yusuf Mansur tiap pukul 05.00 pagi yang ditayangkan sebuah televisi swasta. Selain menambah ilmu agama bagi saya dan keluarga, pembahasan materi pada setiap episodenya sangat mudah dimengerti. Materi beliau juga banyak men-share pengalaman pribadi. Menjadi lebih menarik, karena yang di-share adalah kisah nyata yang pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu episode yang saya ikuti adalah kisah dahsyatnya Sholawat Nabi. Pada episode tersebut, banyak cerita tentang orang-orang yang sukses meraih impian dan cita citanya dengan mendawamkan Sholawat Nabi. Salah satu kisah yang mengetuk hati saya adalah kisahnya Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang franchise-nya sudah tersebar di banyak tempat, seperti jamur yang tumbuh di musim penghujan. Semula, Mas Mono adalah seorang pegawai yang terkena PHK, karena perusahaan tempat dia bekerja bangkrut. Dia yang haqqul yaqin atas kebesaran Allah mendawamkan Sholawat Nabi dibarengi dengan Sholat Dhuha. Hingga akhirnya dia mendapat penghargaan Young Entreprenuer of Year dengan ayam bakarnya.

Ada lagi kisah beberapa orang yang ingin bisa pergi umroh dan haji. Dengan bermodal membeli lukisan Masjidil Haram dan memajang - nya di ruang tamu, lantas apa yang dilakukannya? Setiap hari mereka memandang lukisan tersebut sembari bersholawat dan memanjatkan doa agar diberi kemudahan untuk bisa berkunjung ke sana. Subhanallah, doa mereka dikabulkan, sehingga bisa pergi ke Tanah Suci.

Hal ini menggelitik saya dan keluarga adalah pertanyaan, masa sih bisa begitu? Di lain pihak, banyak juga yang beranggapan bahwa bersholawat sama halnya dengan mengagungkan Nabi, dan itu tidak diperbolehkan jika dilakukan secara berlebihan. Tapi bagi kami sekeluarga, itu tidak menjadi masalah, karena toh yang dilakukan itu benar. Bukan datang ke dukun, lantas meminta jampi-jampi.

Biasanya, setelah melihat tayangan Ustad Yusuf Mansur, ibu berlanjut dengan jalan pagi sembari mencari nasi kuning atau gorengan di sekitar rumah. Mencari sehat sekaligus jalan pagi ini saya manfaatkan untuk selalu berkomunikasi dengan ibu saya. Rute yang kami lewati biasanya di sekitar rumah dengan pemandangan bukit dan gunung yang masih asri, lalu masuk ke kompleks perumahan yang juga asri. Biasanya, jika masuk ke kompleks perumahan tersebut, kami hanya mencari nasi kuning, dan setelah dapat, langsung balik ke rumah. Suatu hari, penjual nasi kuning langganan kami tidak berjualan. Kami lantas ditunjukkan oleh seseorang bahwa ada penjual nasi kuning yang berjualan di blok kompleks lain. Dalam perjalanan menuju blok lain, kami melihat sebuah rumah indah dengan papan tulisan ‘Dijual’. Kami sempat berkeliling sejenak untuk sekadar melihat keindahan rumah tersebut. Tiba tiba ibu saya menyeletuk, “Eh, Mas Bayu (nama panggilan saya di rumah), bagaimana kalau kita praktikkan ilmu yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansur tentang dahsyatnya sholawat?” Saya jawab, “Ya, Mah. Setuju. Ayo kita buktikan.” Kebetulan, saat itu sepi. Jadi, saya dan ibu mendekati rumah tersebut. Tak cukup memandang, kami pun memegang pintu gerbangnya dan mulailah kami berdua bersholawat. Diawali dengan istigfar, lalu mengucapkan hamdalah, berlanjut dengan bersholawat, lalu berdoa. Doanya simpel, “Ya Allah, kami pengin punya rumah ini. Jika Engkau berkehendak, jadikanlah, Ya Allah. Amin.”

Wednesday, April 18, 2018

3 Karung Berasku Bernilai Rp30 Juta

Qomary Sigit Seorang pengusaha muda bidang teknologi informasi. Pekerja keras dan hobi futsal. Ia sangat percaya, kesuksesan anak tergantung bagaimana ia memperlakukan orang tuanya. Sigit tinggal di Solo.  Kisah ini terjadi Agustus 2014.

Kemarin, setelah membaca tulisan seorang kawan, terdorong hati saya untuk berbagi pengalaman pula. Mudah-mudahan kisah ini bisa mendorong kita semua untuk selalu berbuat baik, kapan saja dan dalam keadaan seperti apa saja. Baik di kala longgar atau sempit. Kala sedang banyak rezeki maupun sebaliknya.

Bulan Agustus bisa dibilang titik paling rendah dalam perekonomian saya. Kebutuhan tetap, bahkan bertambah, sedangkan pendapatan tetap segitu-segitu saja. Bulan itu, proyek sepi. Ada satu proyek, tetapi nilai pembagiannya tidak masuk akal. Akhirnya saya lepas. Praktis, saya hanya punya pendapatan dari tempat kerja saya.

3 Karung Berasku Bernilai Rp30 Juta

Ada satu harapan dan menurut saya, merupakan harapan satu-satunya, yakni pengembalian modal dari usaha yang dulu saya bangun bersama teman. Akan tetapi, dari deadline yang dijanjikan hingga saat ini belum kunjung dikembalikan.

Saat hendak berangkat bekerja, istri saya berkata, “Pah, bayaran kakak bulan ini sudah ada? Sama biaya lainnya.” Saya jawab, “Sudah siap, tenang saja.”

Hari itu juga ada SMS dari keponakan, “Pah (semua keponakan memanggil saya Papa makanya anak saya banyak), Ibu enggak punya beras. Papa ada uang, tidak?” Hampir bersamaan, ada tagihan pengembalian down payment dari rekan yang cancel order pembuatan software. Masya Allah, semua berbarengan dan bertubi-tubi saya rasakan. Saya bingung harus mencari dari mana, sedangkan otak saya rasanya sudah buntu. Saya masih berharap, pengembalian modal itu akan berjalan seperti rencana semula.

Akan tetapi, semua tidak berjalan semudah yang saya bayangkan. Semua bercampur aduk menjadi satu dan berdampak pada kesehatan saya. Asma saya kambuh. Setiap malam, saya mengalami sesak napas. Sebenarnya, mudah untuk mengobatinya. Tinggal datang ke rumah sakit dekat rumah, kemudian di-nebulizer (penguapan), selesai, dan sembuh. Akan tetapi, permasalahan tidak semudah itu. Saat itu, saya tidak memiliki cukup uang hanya untuk nebulasi yang hanya Rp80 ribu. Akhirnya, saya hanya makan belimbing wuluh. Kata orang, itu obat tradisional untuk asma. Dengan membaca Bismillah, saya makan 1-3 buah. Rupanya, belum sembuh juga. Pikiran saya sudah ke mana-mana. Bayaran sekolah, tagihan, biaya bulanan untuk orang tua, dan terus terang, itu semakin membuat asma saya semakin parah.

Akhirnya, saya tidur di kursi luar untuk mendapatkan udara segar malam hari. Saat saya membawa bantal keluar, masya Allah, anak saya Xavier ikut menemani. “Papa, saya mau nemeni papa bobok di sini,” tutur Xavier. Dengan polosnya, dia tidur menemani saya. Saat dia sudah liyer-liyer, saya tidak tega. Saya ajak dia masuk untuk tidur di dalam. Saat itu, dia tidur di kamar bersama ibunya. Saya tidur di ruang kerja. Saya tidak bisa tidur, karena asma belum sembuh.

Akhirnya, sekitar pukul 02.45 saya tertidur karena kelelahan. Hal seperti ini berjalan selama dua hari. Pada saat seperti itu, Alhamdulillah saya masih diberi hidayah oleh Allah. Saya ingat kutipan yang pernah saya baca dari salah satu buku Ustad Yusuf Mansur, “Kalau rezekimu kurang, berarti sedekahmu kurang.” Dalam keadaan memiliki uang tidak lebih dari Rp60 ribu, saya berani memutuskan untuk membeli beras 3 karung dengan cara memotong gaji saya. Sejumlah 3 karung beras itu rencananya akan saya sedekahkan ke panti asuhan anak yatim dekat kantor. Kalau dinominalkan, tidak sampai Rp300 ribu. Dengan membaca Bismillah, saya serahkan ke panti asuhan tersebut. Saya minta ke beliau, penerima sedekah, untuk mendoakan usaha saya.

Hari ketiga, asma saya belum sembuh dan tidak ada titik terang dari pengembalian modal saya. Akhirnya, saya curhat ke sahabat saya. Saya sampaikan apa yang ada dalam pikiran saya dan kesulitan yang saya alami, sehingga membuat asma saya kambuh selama 3 hari, tidak sembuh-sembuh. Semula beliau menawarkan sebuah rumah di daerah Purbayan, kemudan saya bilang, “Lha kok beli rumah? Wong saya mau pinjem uang, kok.” Singkat cerita, beliau meminjami uang saya Rp3 juta. Wah, habis terima duit kepala saya terasa dingin. Apakah ini balasan dari 3 karung beras yang saya sedekahkan kemarin? Kalau benar, ya Allah, Engkau langsung membalasnya dengan cepat. Saya menghitung, kalau Rp300 ribu menjadi Rp3 juta berarti sedekahku diganti 10 x lipat oleh Allah.

Sore harinya, saya dikabari sudah ditransfer. Langsung saya ambil cash dan saya berikan kepada ibu saya, sebagian. Saya bilang, “Ibu, ini untuk beli beras.” Spontan ibu bertanya, “Lha dapat uang dari mana?” “Alhamdulllah, Bu. Ada yang pinjami saya uang. Sudah, ibu tidak usah memikirkannya. Insya Allah saya sanggup mengembalikannya.” Ibu diam sejenak, kemudian berkata, “Ya, Nak. Ibu doakan kamu lancar rezekimu, biar bisa bayar utangmu.” “Amin,” sahut saya.

Habis dari rumah ibu, saya ke rumah sakit untuk periksa. Alhamdulillah, setelah di-nebula, saya bisa bernapas lega. Saya pulang ke rumah. Saya berikan pada istri untuk biaya sekolah dan lainnya. Spontan istri juga bertanya, “Dapat uang dari mana?” Saya jawab, “Sudah, itu dipakai untuk bayar. Ada sisa sedikit, saya pakai untuk cicil DP yang cancel order kemarin.”

Sejenak pikiran saya longgar karena permasalahan di atas sudah terselesaikan dengan uang pinjaman tadi. Rupanya ini tidak berlangsung lama. Tiba-tiba handphone jadul saya bergetar. Ada SMS masuk. Saya baca ternyata dari debt collector. “Mau ditransfer kapan, Bos, cicilan bulan ini?” Masya Allah, spontan kepala saya kembali cenat-cenut. Lagi-Lagi saya berharap modal usaha yang dijanjikan dari Juli itu dikembalikan sesuai janji. Bisa dibilang, pengembalian modal itu lebih dari cukup untuk menutup kekurangan cicilan mobil sampai lunas. Sampai hari yang ditentukan, tidak ada kabar soal pentransferan modal dari rekan saya.

Akhirnya, debt collector datang ke rumah ibu. Sedangkan ibu tidak tahu apa-apa. Ibu panik. Keponakan SMS saya, “Pah, ada leasing nagih.” Saya jawab, “Iya, Nak. Ini uang Papa masih kurang.”

Minggu, 31 Agustus 2014, saya tugas ke Kota Cirebon bersama Mas Wantik, Mbak Egha, dan driver. Bismillah, kami berangkat dari Solo. Tak lupa saya berpamitan kepada kedua orangtua saya. Kami terkena macet hampir 2,5 jam di Semarang.

Tiba di Cirebon kurang lebih pukul 03.45. Kami menunggu Subuhan sambil rebahan. Habis sholat Subuh, kami beristirahat. Saya bangun sekitar pukul 08.00, karena badan saya kurang sehat. Saat bangun, ada 1 SMS yang belum saya baca di handphone jadul saya. Ada pengirim yang nomornya belum saya simpan. Kurang lebih isinya seperti ini, “Pak Sigit, saya dapat info dari Bagian Hukum Solo bahwa Pak Sigit yang buat website Pemkot Solo. Kami ingin bekerja sama dengan Pak Sigit perihal pembuatan web serupa. Seno Bagian Hukum Pemkot Tegal.” Alhamdulllah. Rezeki pagi hari. Setelah itu, saya melaksanakan tugas di kantor Cirebon. Koordinasi dengan tim TI di sana.


Hari itu, saya kerja tidak full. Habis Sholat Asar saya masuk mess untuk istirahat, karena kurang enak badan. Hari Selasa pagi, seperti biasa kami mencari sarapan. Sambil sarapan, setelah mengobrol soal politik, Mas Wantik tiba-tiba ngomong, “Saya pengin jadi manusia 4 kuadran, Bro.” Spontan saya bertanya, “Apa itu, Pak?” “Wah, nanti saja, Bro, kita kuliah 15 menit di kantor,” jawab Mas Wantik. Setibanya di kantor, Mas Wantik langsung memberi kuliah singkat kepada saya tentang manusia 4 kuadran. Kurang lebih seperti ini.