Saturday, March 17, 2018

The Miracle of Tahajud

Ketika awal-awal saya masuk Darul Quran, kegiatan berjalan seperti biasanya. Kami bangun pukul 03.00 untuk mandi. Setelah itu,menunaikan Sholat Tahajud, walaupun tidak semuanya bangun untuk mengerjakan hal tersebut. Saya mau tidak mau harus mengerjakan hal tersebut. Karena, saya ingin berubah. Saya ingin mewujudkan cita-cita besar saya dengan ikhtiar yang besar pula. Saya pun bangun pukul 03.00.

Setelah mandi, saya turun menuju aula. Sering kali saya merasa takut karena sangat sepi. Namun saya selalu membayangkan, saya berjalan tidak sendiri. Saya berjalan di antara banyak orang yang berbondong bondong ingin mengerjakan perintah-Nya.

Ya, saya membayangkan saya berada di Tanah Suci. Sholat Tahajud saya tunaikan 11 rakaat. Alhamdulillah selalu saya paksakan untuk bisa 11 rakaat. Kenapa? Karena saya ingat dengan mimpi-mimpi besar saya. Saya berprinsip seperti apa yang diucapkan oleh Ayah pondok saya, Ustad Yusuf Mansur, “Mimpi yang besar harus diimbangi dengan ikhtiar yang besar pula.”

Setiap kali bersujud saya terkadang menangis teringat orangtua dirumah; teringat pula bahwa saya ingin pergi ke Baitullah. Saya sholawat di atas sajadah saya yang bergambar Kakbah. Ditambah berdoa, “Ya Allah, saya pengin pergi ke Tanah Suci-Mu lagi,Ya Rabb. Terserah gimana caranya, kapan saja, itu urusan-Mu nanti. Saya janji enggak seperti umroh yang dulu. Pernah menunda tawaf cuma gara-gara panas. Saya pengin umroh pas tahun baru biar bisa nyium Hajar Aswad seperti yang diceritakan teman ayah saya. Saya pengin umroh pas Ramadhan biar bisa merasakan bagaimana rasanya puasa di negara orang, apalagi di Baitullah. Saya nyesel Ya Allah dulu saya cuma dapat dua rakaat pas sholat di Raudhah-Mu, Ya Rasul. Saya kangen sama Engkau, Yaa Rabb Ya Rasul. Saya pengin selalu dekat dengan-Mu, Ya Rabb Ya Rasul. Panggil hamba dan keluarga besa rhamba untuk bisa ke Baitullah, Ya Allah. Amin.”

Saya pun nangis sesenggukan setiap kali berdoa seperti itu di waktu Tahajud. Tidak peduli teman-teman melihat saya yang menangis sampai mata bengkak. Doa saya tutup dengan membaca istigfar 100 kali, sholawat 100 kali, subhanallah wabihamdih 100 kali. Setiap kali ustad saya menjadi imam, suara beliau mirip dengan murotal murotal syeikh Timur Tengah. Meneteslah air mata saya, serasa sholat di Baitullah. Setiap kali disuruh merenung bersholawat, air mata saya pun keluar lagi. Ingin sekali saya bersholawat langsung di hadapan Rasulullah.

Minggu sore telah tiba. Saatnya saya menelepon orangtua saya. Apalagi waktu itu saya sudah lama tidak berbicara dengan ayah saya, karena beliau sedang pergi ke Jerman. Senang sekali bisa berbicara dengan beliau lagi, walaupun rasa kangen saya hanya berbalas lewat suara. Saya pun menanyakan kabar beliau, pun dengan beliau yang menanyakan kabar saya. Namun, tiba-tiba ayah saya menanyakan tentang liburan ke Jepang. Saya pun sangat senang mendengarnya dan saya pun mengiyakan ajakan ayah tesebut. Namun setelah dipertimbangkan, liburan ke Jepang kami tunda karena ada hal yang lebih penting dibandingkan. Apalagi ayah saya ingin umroh tahun ini. Tak apa, mungkin belum waktunya. Dan akhirnya, saya pun menyetujui keputusan tersebut.

Beberapa hari kemudian ketika kelas tahfid berlangsung, saya menyetorkan hapalan saya pada akhir waktu. Akhirnya tinggal saya dan ustazah di tempat tersebut. Setelah selesai, ustazah menanyakan suatu hal kesaya yang sebelumnya tidak saya ketahui sama sekali.

“Wening, kemarin ayah telepon. Cuma anti (kamu) suruh telepon baliknya lewat handphone ustazah kamarmu saja, ya?”

“Oh, iya ustazah. Enggak apa-apa. Syukron (terima kasih),” jawabsaya.

Anti mau umroh Ramadhan besok?”

Tiba-tiba ustazah bertanya seperti itu. Saya pun kaget dan langsung menjawab,

“Tidak ustazah. Ayah saya yang mau umroh, bukan saya.”

“Tapi kemarin ayah anti SMS Ustazah, menanyakan tentang perizinan pulang karena umroh lho. Ya berarti anti juga ikut umroh,” tegas ustazah.
Saya pun kaget bukan main, percaya tidak percaya. Karena liburan ke Jepang saja tidak jadi, malah diajak umroh. Ya Allah, Ya Rabb. Sujud syukur saya sewaktu Sholat Dhuha.Ya Allah, Ya Rabb. Engkau memang Allah Yang Maha Merajai dan Maha Menghendaki. Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah menjawab doa hamba yang satu ini. Hamba janji tidak mengulang kesalahan hamba sewaktu umroh dulu. Terima kasih, Ya Allah Ya Rabb.Sambil sujud saya pun menagis sejadi-jadinya.Belum ada setahun, doa saya dikabulkan, lho, teman-teman. Hanya karena rajin berdoa, Sholat Tahajud, serta diimbangi ikhtiar dengan berpuasa hajat dan sholawat.

Masya Allah, Subhanallah, wal hamdulillah. Semoga kisah saya ini dapat menginspirasi teman-teman, Insya Allah. Amin.

Comments


EmoticonEmoticon