Sunday, March 18, 2018

The Miracle of Al-Fatihah

Hari itu, di pondok sedang berlangsung training ESQ selama 2 hari. Ketika hari pertama berlangsung, kami disuguhi dengan melihat lebih jauh tentang ciptaan Allah dalam alam semesta ini.Baru season 1 dimulai, waktu Dhuhur datang menyambut. Kami pun beristirahat sejenak untuk Sholat Dhuhur sekaligus makan siang.

Setelah sholat, kami bergegas mengambil makan siang, karena acara akan segera dimulai. Sewaktu semuanya mengambil makan, saya memilih beristirahat sejenak di kamar. Karena, saat itu saya masih menjalankan Puasa Hajat. Ketika beristirahat di kamar, tiba-tiba ada panggilan yang terdengar memanggil nama saya.

“Panggilan. Panggilan ini ditujukan kepada Wening Nur Faizi. Diharapkan menuju ke kantor atau ke gerbang sekarang juga.”

Saya pun kaget. Mengapa siang-siang saya dipanggil ke kantor? Dan ternyata, ayah saya datang. Saya pun senang sekali. Namun saya heran. Ayah saya minggu lalu sewaktu di telepon beliau akan datang pada minggu yang akan datang. Tetapi saya ingat, saya pernah berdoa iseng, “Ya Allah, kapan ya saya dijenguk? Tapi dijenguknya tiba-tiba, Ya Allah. Biar kejutan gitu.” Eh, beneran. Saya dijenguk tanpa saya sadari. Ya inilah the miracle of du’a, again.

Setelah saya berjabat tangan dengan ayah saya, ayah saya langsung menyuruh saya bergegas ikut beliau. Sedangkan saya masih memakai seragam dan sandal jepit. Ayah saya sudah tidak punya waktu lagi. Kami harus pergi ke poliklinik di Bekasi untuk melakukan suntik vaksin. Menurut ayah saya, poliklinik tutup pukul 14.00. Sedangkan saat itu sudah menunjukkan pukul 12.45. Kami bergegas berangkat, karena kami harus mengejar waktu dengan macetnya Kota Jakarta.

Setelah kurang lebih sejam kami di dalam mobil, kami pun akhir nyasampai di tempat tujuan. Namun, jarum jam sebentar lagi menunjukkan pukul 14.00. Saya dan ayah saya memutuskan untuk berjalan kaki. Sementara sopir dari mobil yang ayah saya sewa masih menunggu macet di lampu merah yang berseberangan dengan poliklinik.

“Ayo, Al-Fatihah, Al-Fatihah. Semoga masih bisa!” seru ayah saya sembari berjalan lebih cepat. Saya pun tersenyum sembari membaca Al-Fatihah seperti seruan ayah saya. Setelah sampai di poliklinik, kami pun masuk. Namun ternyata, di ruang tunggu sudah terpampang jelas papan yang bertuliskan, ‘Tutup’. Ayah saya tetap masuk ke dalam ruang pemeriksaan yang kebetulan masih ada petugas. Setelah menjelaskan panjang lebar bahwa kami dari jauh, akhirnya petugas pun memahami dan kami akhirnya bisa suntik vaksin saat itu juga, walaupun sebenarnya, jam praktik sudah tutup. Karena Al-Fatihah yang tadi kami baca, Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar.Subhanallah. Allah Maha Mendengar lagi Maha Menghendaki. MasyaAllah.

Comments


EmoticonEmoticon