Thursday, March 22, 2018

Sang Inspirator


Ketika MOS masih berlangsung, saya dan teman-teman saya harus mengikuti berbagai kegiatan. Di antaranya kami harus mengumpulkan tanda tangan kakak kelas kami. Berbagai kegiatanpun berlangsung, hingga akhirnya waktu Dhuhur pun datang.

Kami bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat di aula. Setelah sholat, saya berjalan keluar meninggalkan aula. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri saya seraya berkata,

“Eh, Ukhti. Ente ya yang namanya Wening?” Saya yang kaget langsung menjawab,

“Iya, kenapa? Kok tahu nama ane? Padahal, ane kagak kenal ente.”

“Ya kenal, lah. Ente yang sering sholat di belakang imam sama yang sering jadi muazin, kan?”

“Hehe... iya. Afwan (maaf). Kalau ente siapa, ya?”

“Haha.... Ane teman i’dad ente.”

Mengapa harus sholat di belakang imam dan sering menjadi muazin, karena saya mencontoh tokoh yang selalu menginspirasi saya, yaitu ayah saya. Setiap kali saya ke masjid di dekat rumah, saya selalu melihat ayah saya sholat berada di belakang imam.

Saya pun penasaran dan akhirnya saya praktikkan di pondok. MasyaAllah, rasanya adem. Apalagi kalau imamnya ustad yang suaranya sangat merdu. Ya Allah, menetes air mata saya. Ingin balik lagi ke Tanah Suci. Tidak hanya membuat adem dan khusyuk sholat, tapi pahalanya, masyaAllah, gede banget.

Sedangkan tentang muazin, saya terisnpirasi oleh Bilal bin Rabah; seorang budak di zaman Rasulullah SAW yang pertama kali mengumandangkan azan. Suaranya sangat merdu, sampai-sampai beliau dijanjikan surga oleh Allah.

Masya Allah, karena beliau selalu ikhlas dalam hal apapun, seperti sholat dan azan. Apalagi balasan bagi seorang muazin adalah wajahnya bersinar di Akhirat kelak. Subhanallah. Saya dikenal orang hanya karena selalu sholat di belakang imam dan menjadi muazin. Mau mencoba?
Comments


EmoticonEmoticon