Sunday, March 25, 2018

My New Life & Future (1)


Pada bulan September pula, saya pernah mencoba menghapal Juz 29. Namun yang saya temukan hanyalah kesulitan. Sampai akhirnya saya pun bertanya kepada teman saya yang sudah mempunyai hapalan lebih banyak, apakah dia juga pernah mengalami kesulitan sama seperti saya. Ternyata dia menjawab,

“Tidak. Biasa saja. Mungkin awalnya iya.”

Saya pun menangis dibuatnya. Kenapa saya sangat kesulitan menghapalnya, sedangkan mereka tidak? Saya sampai bertanya kepada Allah,

“Ya Allah, kesalahan apa yangmembuat saya susah menghapal Juz 29? Saya takut target saya tidak tercapai, Ya Allah, hanya karena Juz 29.”

Esoknya, Ustad pengasuh saya memberikan masukan kepada semua santrinya tentang puasa. Puasa Senin-Kamis, Daud, dan Hajat bisa membuat apa saja hajat kita akan cepat terwujud. Setelah saya mendengar tentang dahsyatnya puasa tersebut, saya pun merasa tertantang untuk mencoba puasa Hajat selama 40 hari berturut-turut.

Alhamdulillah, Juz 30 sudah kelar. Namun, tidak semudah yang dibayangkan. Untuk bisa lolos dari Juz 1 ke Juz yang lain tidaklah mudah. Karena, untuk bisa lolos, saya harus dites terlebih dahulu dengan soal melanjutkan potongan ayat. Sampai akhirnya saya pernah gagal dan harus mengulang tes esok harinya.

Pada Hari Minggu ketika saya menelepon ibu saya, saya menangis sejadinya sewaktu saya menceritakan kegagalan tes saya. Masalahnya sepele, hanya karena waktu itu wajah guru saya agak bete, jadi konsentrasi saya buyar dan akhirnya nge-blank.

Saya pun bilang dan meminta ibu saya untuk mendoakan saya untuk tes ulang, besoknya. Karena saya yakin doa ibu sangatlah manjur dan membuat saya tidak akan minder lagi.

Esoknya, sewaktu Tahajud, saya menangis sejadinya, curhat kepada Allah,

“Ya Allah, saya takut. Saya pasrah pada kehendak-Mu. Yang penting saya sudah berusaha dan sudah minta doa pada ibu. Saya pengin, Ya Allah, pulang membawa 3 Juz untuk kado beliau.”

Alhamdulillah, saya lulus tes. Saya sangat senang dan bangga, karena saat itu, sayalah santri yang hapalannya paling tinggi di kelas tahfid saya, sehingga membuat saya memenangkan Tahfid Reward di Bulan September.

Pada Bulan Oktober, saya memulai lembaran baru, karena saya sudah masuk ke Juz 29. Saya pun tak mengira bahwa hanya karena Puasa Hajat saya, saya pun bisa menghapal Juz 29 tanpa kesulitan dan bisa selesai sesuai target, yaitu kurang dari sebulan.

Saya pun harus kembali mengingat dan mengulang hapalan Juz 29 dan 30 saya. Karena, untuk bisa naik ke kelas 2 Tahfid, soal tes yang akan diberikan tergantung capaian hapalan individu masing-masing. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendaftarkan diri, mengikuti tes tersebut. Hari demi hari berganti, sebenarnya saya sudah siap untuk tes. Namun, karena guru yang saya inginkan tidak ada waktu itu, saya putuskan untuk tes pada esok harinya.

Esok harinya, saya mencoba ingin mendaftarkan diri, tetapi tiba-tiba saya ketakutan dan malah membuat saya grogi. Pada satu sisi, saya takut, sementara di sisi lain, membuat saya kecewa karena saya membuang waktu saya, hanya karena itu.

Esok harinya lagi, saya pun memberanikan diri untuk mendaftarkan diri. Saya bersalaman dengan guru tahfid saya sembari meminta doa. Selang beberapa menit kemudian, Alhamdulillah, saya lulus tes. Di situ saya senang dan terharu, karena bisa lolos tes. Akhirnya, saya bisa melanjutkan hapalan saya ke Juz 1.

Memasuki Bulan November, saya harus berpisah dengan kelas dan guru tahfid saya. Karena, saya harus pindah ke kelas 2 tahfid yang gurunya sedikit saya takuti, karena beliau hafizah. Masya Allah.

Tantangan menghapal pun semakin menjadi. Guru baru saya sangatlah teliti dalam hal apa pun yang terkadang malah membuat saya bete campur rasa takut. Saya masih terus melanjutkan Puasa Hajat.
Comments


EmoticonEmoticon