Thursday, March 15, 2018

Gift from Allah

Husnuzon kepada Allah-lah yang membawa saya pada sebuahperjalanan spiritual luar biasa, tepatnya dua tahun sebelum Dia menghadiahi saya sebuah tiket umroh, saat saya harus belajar menerima diri dan keluarga apa adanya, dengan kekurangandan kelebihan yang ada.

Usia 20 tahun pernikahan orangtua saya, ternyata berakhir dengan perpisahan. Subhanallah, berat sekali cobaan dari-Mu, ya Allah.Ketika berjuang menyelesaikan Tugas Akhir dan masih banyak hal yang butuh dikondisikan, Alhamdulillah Allah tidak mencabut keimanan dalamdiri saya, malahan menumbuhkan keyakinan kuat bahwa situasi akanbisa dihadapi.

Pelan tapi pasti, saya lalui hari-hari dengan belajar bersyukur dan selalu berhusnuzon kepada Allah bahwa semua ini pasti bisa kami lalui. Darisinilah proses perbaikan dimulai.

Di tengah kegalauan sindrom umur 25 tahun....

Di saat banyak teman telah melepas masa lajangnya....

Ada perasaan dan pertanyaan, kapan giliran saya?
Berhusnuzon kepada Allah menjadi langkah awal yang saya ambil dengan sepenuh keimanan. Bahwa Allah ingin membersihkan dan memperbaiki diri saya, sebelum dipertemukan dengan jodoh saya. Bukankah perempuan baik-baik untuk laki-laki yang baik? Begitu pula sebaliknya.

Saya mulai misi perbaikan dengan memohon maaf kepada ibu. Selanjutnya, saya memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama adik-adikku, serta memperbaiki diri dengan memperbanyak ibadah.

Tak lupa, saya menunaikan sholat fardhu selalu tepat waktu, diikuti sholat sunah rawatib. Setiap hendak berangkat kerja, tidak lupa saya Sholat Dhuha 4 rakaat dan Sholat Hajat 2 rakaat.

Sebelum tidur, saya niatkan bangun sholat malam. Alhamdulillah, saya selalu terbangun pada sepertiga malam untuk Sholat Tahajud 2 hingga 8 rakaat, ditutup Sholat Witir.

Saat Shubuh tiba, doa Al Ma’tsurat selalu saya baca, berlanjut tilawah Al-Quran. Alhamdulillah. Saya bertahan hingga hampir satu tahun melakukan semua itu, berharap, Allah mengampuni dosa-dosa saya dan melapangkan kehidupan saya di masa depan. Ada satu kejadian yang akhirnya saya pahami sebagai bom pemicu, yang pada akhirnya membawa saya untuk bisa umroh.

Begini ceritanya....
Suatu sore, saya mendapat SMS dari teman yang saya kenal sewaktu bekerja bersama di sebuah perusahaan. Seorang Muslimah yang pintar dan cantik di mataku. Kami seumuran.

Ia memberi kabar, akan berangkat umroh. Intinya, mengabarkan keberangkatan dan menawari saya untuk menitip doa. Subhanallah. Saat itu, hati saya tergetar seperti tersambar petir. Saya sempat kaget dan terdiam beberapa saat.

Masya Allah, saya turut bahagia bercampur haru dan ada rasa iri di hati. Saya iri, pengin juga berumroh.Tapi, saat itu, saya berpikir realistis. Uang dari mana?

Tidak terlintas di kepala atau hati ini untuk umroh, apalagi haji, padahal sudah sering saya dengar ceramah Ustad Yusuf Mansur bahwa umroh dan haji bukan masalah uang, tapi azam (keinginan yang kuat).

Alhamdulillah. Dari SMS, akhirnya sebelum berangkat, kami sempat bertemu dan mengobrol, lalu saya diberi selembar brosur biro perjalanan umroh yang dijalankan ayahnya. Sepulang dari pertemuan itu, saya putuskan untuk membulatkan niat pergi umroh dan memasang brosur tersebut di kamar, tepat di samping kaca dandan.

Selang beberapa minggu, ibu masuk kamar dan melihat brosur tersebut, lalu berkomentar, “Oalah, Nduk. Ojo kegedhen empyak kurang cagak.”

Mungkin, ibu sering melihat saya Sholat Tahajud sambil mendengarisakan tangis saya. Beliau takut kalau saya kecewa, karena terlalu bermimpi.

Beliau tahu, saya sama sekali tidak memiliki uang, apalagi tabungan. “Insya Allah, Bu. Ke Makkah ndak harus pakai uang. Mungkin saya ndak punya tabungan, tapi ibu tahu persis, semua gaji saya untuk mem bantu orangtua dan adik-adik. Itu tabungan saya, Bu.”Percakapan berakhir. Ibu pun keluar kamar sambil tersenyum.

Setahu saya, satu amalan yang Allah akan membalas langsung di dunia maupun Akhirat adalah birrul walidain. Bismillah saja. Husnuzon. Berapa pun rezeki yang saya miliki, saya niatkan sebagai wujud berbakti kepada orangtua dan hanya mengharap ridho Allah.

Ceramah Ustad Yusuf Mansur banyak saya adopsi. Salah satunya, kalau ingin didekatkan jodohmu, perbaiki hubungan dengan keluarga. Alhamdulillah, hubungan dengan ibu dan adik-adik membaik ditambah bonus rezeki yang mulai lancar.

Ayah tinggal di rumah berbeda. Jadi, perlakuannya berbeda, hanya via SMS. Tapi, saya yakin, doa anak kepada orangtua tidak terhijab. Kondisi rumah dan keuangan keluarga saya pun membaik. Alhamdulillah.Setelah memantapkan hati dan meluruskan niat untuk berangkat umroh, saya berniat membuat paspor, hitung-hitung menyicil. Alhamdulillah,ada sedikit uang untuk apply paspor dan lancar.

Saat sesi wawancara, saya ditanya, “Buat paspor mau ke mana, Mbak?” Saya jawab, “Umroh, Pak.”Padahal, saat itu, belum ada uang atau tabungan. Hanya ada niat. Saat itu Bulan November 2012. Saya tetap husnuzon.

Desember, ayah saya mendapat rezeki. Seperti biasa, ayah mendapat bonus sebagai pelatih. Ketika itu, ada acara Para Games di Thailand. Saya memberanikan diri untuk nembung utang. Begini kira-kira percakapansaya dengan ayah.“Yah, saya pengin umroh.” Wajah ayah terlihat datar.“Lha biayane pira?” (Biayanya berapa?)“18 juta. Saya pinjam boleh, Yah? Gantinya, motor saya dijual saja, ndak apa-apa.” Hening sejenak.

Ngajak Embah umroh sisan, gelem?” (Ajak Nenek umroh sekalian,mau?)Maknyes rasanya.

Purun, Yah.” (Mau, Yah)

Alhamdulillah disetujui. Saya langsung diberi uang Rp38 juta. Saya mendapatkannya tanpa menabung. Sifat Al-Ghaffar Allah saya rasakan. Setelah merasa menjadi manusia paling berdosa, lalu melakukan perbaikan ibadah, saya mengajukan proposal kepada-Nya di setiap akhir sholat.

Saya berdoa, “Ya Allah, jika engkau menerima tobat dan ibadah saya, izinkan saya benar-benar bertobat dan beribadah di Baitullah-Mu.”

Alhamdulillah, inilah hadiah terbesar dari Allah.Allah berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akanmendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari”. (HR. Bukhari-Hadits Qudsi)

Subhanallah.

Comments


EmoticonEmoticon