Thursday, March 29, 2018

My New Life & Future (3)

Putri dari penulis. Santri kelas1 SMA di Darul Quran Cikarang. Cita-citanya ingin bisa jadi pengusaha yang hafi zah. Ia anakyang pendiam dan sangat taat kepada orang tuanya.

Tanggal 9 Agustus 2014, hari pertama saya masuk Pondok Pesantren Darul Quran Cikarang. Sebenarnya, keputusan yang berat memang, karena saya harus mengulang dari awal untuk sekolah di pondok pesantren tersebut. Sebenarnya, saya sudah setahun bersekolah di sebuah SMA terkemuka di Solo. Banyak teman saya yang menyayangkan kepindahan saya, termasuk guru BK saya yang setiap ketemu saya selalu menasihati dan menyarankan agar dipertimbangkan matang-matang keputusan saya tersebut.

My New Life& Future (3)

Saya pun terkadang bingung dengan hal tersebut, sampai harus berpikir dua kali. Namun, setelah saya pikir-pikir dan teringat sewaktu saya masih SMP, ayah saya pernah bilang kalau beliau ingin anaknya ada yang masuk pesantren. Apalagi beliau sangat menyukai Ustad Yusuf Mansur yang notabene penghasil generasi ‘Para Penghapal Quran’.

Saya juga selalu ingat, sewaktu ayah saya berkata, “Apa pun akan tercapai, termasuk masa depanmu, apabila kamu mau belajar Quran. Jangankan kesuksesanmu di dunia, di Akhirat pun pasti dapat. Itu hal sangat mudah bagi Allah kalau cuma urusan dunia, apalagi di Akhirat.”

Saya pun semakin mantap dengan cita-cita, belajar di Madinah kelak. Maka saya putuskan untuk mengikuti apa kata kedua orang tua saya dan hati saya sudah mantap. Tidak apa saya harus bersekolah dibangku SMA selama 5 tahun, tetapi Allah akan menggantikannya dengan masa depan saya yang jauh lebih barokah dengan ridha-Nya, Insya Allah. Amin.

Pukul 07.00 pagi, saya dan ayah tiba di pesantren. Sangat sepi memang, karena kami datang lebih awal. Sampai akhirnya pendaftaran ulang pun berlanjut hingga siang. Setelah semuanya selesai, sebelum Dhuhurayah saya pun berpamitan pulang ke Solo. Sedih dan berat memang jauh dari orangtua. Sebelumnya, saya tidak pernah jauh dari mereka. Namun apa daya, semua harus berlanjut. Sayapun ke kamar untuk membereskan barang-barang saya.Sampai akhirnya saya berkenalan dengan seorang teman sekamar saya yang masih duduk di bangku SMP. Dia orangnya periang, sehingga saya tidak merasa sedih lagi.

Lonceng berbunyi tanda Sholat Dhuhur akan segera dimulai. Saya bergegas ke aula untuk melaksanakan sholat dengan teman baru saya tersebut. Setelah selesai, kami keluar untuk membeli makan siang sambil bertukar cerita, satu sama lain.
Keesokan harinya, kami pun menjalani Masa Orientasi Santri (MOS) selayaknya sekolah lain yang berlanjut beberapa hari.

Di sana hal pertama yang saya rasakan, yaitu kesabaran dan keikhlasan. Di mana-mana harus antre dan ikhlas. Ya namanya juga Santri (SerbA aNTRI).Tapi saya menikmati antrean tersebut. Memang sih awalnya saya merasa bosan harus mengantre. Sampai suatu ketika, saya mengantre mandi. Sambil melihat-lihat pemandangan dari lantai dua dengan pemandangan tempat jemuran, saya manfaatkan untuk berdoa, “Ya Allah, enggak apa deh sekarang setiap hari pemandangannya cuma jemuran. Tapi, Ya Allah. Semoga kelak Engkau ganti dengan setiap hari saya bisa melihat Kakbah. Amin.”

Hari demi hari pun berganti. Pada bulan Agustus ini kami hanya diperbolehkan hapalan 4 surat pilihan, yakni Al-Mulk, Al-Waqiah, Ar-Rahman,dan Yasin. Alhamdulillah. Semua itu saya lalui dengan lancar. Dari 4 surat pilihan tersebut, saya sudah tidak asing dengan 3 surat pilihan. Karena, ayah saya selalu memutar murotal sewaktu di rumah. Dengan bangga dan senang, saya hadiahkan 4 surat pilihan tersebut kepada orang tua saya.

Bulan September, kami digembleng untuk fokus ke tilawah (membaca Al-Quran) yang 1 harinya 10 Juz. Tidak dianjurkan menghapal terlebih dahulu. Kalau pun ingin menambah hapalan pun boleh, asal tilawah 1 hari 10 Juz tetap berjalan.Saya pun memanfaatkan bulan tersebut dengan menambah hapalan Juz 30 yang Alhamdulillah saya sudah khatam. Walaupun sempat ada kendala telinga saya sakit, sehingga saya harus dibawa ke dokter THT. Namun, itulah yang membuat saya sadar bahwa itulah cobaan bagi para penghapal Al-Quran. Sampai akhirnya, sewaktu diadakan Tahfid Reward di setiap bulannya,saya mendapatkan penghargaan sebagai Santri Terbaik dan Hapalan Terbanyak di bulan September.

Sunday, March 25, 2018

My New Life & Future (1)


Pada bulan September pula, saya pernah mencoba menghapal Juz 29. Namun yang saya temukan hanyalah kesulitan. Sampai akhirnya saya pun bertanya kepada teman saya yang sudah mempunyai hapalan lebih banyak, apakah dia juga pernah mengalami kesulitan sama seperti saya. Ternyata dia menjawab,

“Tidak. Biasa saja. Mungkin awalnya iya.”

Saya pun menangis dibuatnya. Kenapa saya sangat kesulitan menghapalnya, sedangkan mereka tidak? Saya sampai bertanya kepada Allah,

“Ya Allah, kesalahan apa yangmembuat saya susah menghapal Juz 29? Saya takut target saya tidak tercapai, Ya Allah, hanya karena Juz 29.”

Esoknya, Ustad pengasuh saya memberikan masukan kepada semua santrinya tentang puasa. Puasa Senin-Kamis, Daud, dan Hajat bisa membuat apa saja hajat kita akan cepat terwujud. Setelah saya mendengar tentang dahsyatnya puasa tersebut, saya pun merasa tertantang untuk mencoba puasa Hajat selama 40 hari berturut-turut.

Alhamdulillah, Juz 30 sudah kelar. Namun, tidak semudah yang dibayangkan. Untuk bisa lolos dari Juz 1 ke Juz yang lain tidaklah mudah. Karena, untuk bisa lolos, saya harus dites terlebih dahulu dengan soal melanjutkan potongan ayat. Sampai akhirnya saya pernah gagal dan harus mengulang tes esok harinya.

Pada Hari Minggu ketika saya menelepon ibu saya, saya menangis sejadinya sewaktu saya menceritakan kegagalan tes saya. Masalahnya sepele, hanya karena waktu itu wajah guru saya agak bete, jadi konsentrasi saya buyar dan akhirnya nge-blank.

Saya pun bilang dan meminta ibu saya untuk mendoakan saya untuk tes ulang, besoknya. Karena saya yakin doa ibu sangatlah manjur dan membuat saya tidak akan minder lagi.

Esoknya, sewaktu Tahajud, saya menangis sejadinya, curhat kepada Allah,

“Ya Allah, saya takut. Saya pasrah pada kehendak-Mu. Yang penting saya sudah berusaha dan sudah minta doa pada ibu. Saya pengin, Ya Allah, pulang membawa 3 Juz untuk kado beliau.”

Alhamdulillah, saya lulus tes. Saya sangat senang dan bangga, karena saat itu, sayalah santri yang hapalannya paling tinggi di kelas tahfid saya, sehingga membuat saya memenangkan Tahfid Reward di Bulan September.

Pada Bulan Oktober, saya memulai lembaran baru, karena saya sudah masuk ke Juz 29. Saya pun tak mengira bahwa hanya karena Puasa Hajat saya, saya pun bisa menghapal Juz 29 tanpa kesulitan dan bisa selesai sesuai target, yaitu kurang dari sebulan.

Saya pun harus kembali mengingat dan mengulang hapalan Juz 29 dan 30 saya. Karena, untuk bisa naik ke kelas 2 Tahfid, soal tes yang akan diberikan tergantung capaian hapalan individu masing-masing. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendaftarkan diri, mengikuti tes tersebut. Hari demi hari berganti, sebenarnya saya sudah siap untuk tes. Namun, karena guru yang saya inginkan tidak ada waktu itu, saya putuskan untuk tes pada esok harinya.

Esok harinya, saya mencoba ingin mendaftarkan diri, tetapi tiba-tiba saya ketakutan dan malah membuat saya grogi. Pada satu sisi, saya takut, sementara di sisi lain, membuat saya kecewa karena saya membuang waktu saya, hanya karena itu.

Esok harinya lagi, saya pun memberanikan diri untuk mendaftarkan diri. Saya bersalaman dengan guru tahfid saya sembari meminta doa. Selang beberapa menit kemudian, Alhamdulillah, saya lulus tes. Di situ saya senang dan terharu, karena bisa lolos tes. Akhirnya, saya bisa melanjutkan hapalan saya ke Juz 1.

Memasuki Bulan November, saya harus berpisah dengan kelas dan guru tahfid saya. Karena, saya harus pindah ke kelas 2 tahfid yang gurunya sedikit saya takuti, karena beliau hafizah. Masya Allah.

Tantangan menghapal pun semakin menjadi. Guru baru saya sangatlah teliti dalam hal apa pun yang terkadang malah membuat saya bete campur rasa takut. Saya masih terus melanjutkan Puasa Hajat.

Saturday, March 24, 2018

My New Life & Future (2)


Akhirnya, Juz 1 saya lalui dengan mudah dan sesuai target, yaitu kurang dari sebulan. Meski demikian, saya harus menyetorkan hapalan Juz 1 awal hingga akhir terlebih dahulu untuk bisa naik ke Juz 2. Saya pernah dibuat menangis oleh ustazah saya. Ketika saya setoran hapalan, sempat dimarahi guru saya karena ini dan itu. Pernah juga ditakuti, apabila bacaan saya masih salah tidak akan dinaikkan ke Juz 2. Saya pun menangis sejadinya karena hal itu.

Dan beberapa hari kemudian, saya masih tetap melanjutkan setoran hapalan saya dengan berusaha membetulkan bacaan saya sebisa332mungkin. Hingga akhirnya selesai. Alhamdulillah. Juz 1 di Bulan November.

Awal Desember, Tahfid Reward pun diadakan lagi. Alhamdulillah saya menang lagi sebagai santri dengan nilai tertinggi di Bulan November. Saya sangat senang dan menambah semangat saya untuk cepat-cepat menyelesaikan Juz 2.

Alhamdulillah. Berkat doa semuanya dan Puasa Hajat saya, Juz 2 saya selesaikan kurang dari sebulan. Akhir Bulan Desember, saya dikejutkan dengan perkataan teman saya yang berkata,

“Ukthi (saudara perempuanku ), ente sudah keluar gerbang, belum?” Saya bingung sembari menjawab,

“Belum, kan ane enggak dijenguk? Masa bisa keluar gerbang?” Teman saya menjawab dengan riang gembira,

“Nama ente dipajang gede tuh di luar gerbang.” Saya pun kaget,

“Kok bisa? Memang apa?” Teman saya bilang,

“Itu, pemenang Tahfid Reward bulan November kemarin. Ente santri terbaik mewakili Daqu Putri Cikarang.” Kaget saya semakin menjadi,

“Hah, beneran?” Awalnya, saya sedikit tidak percaya dengan teman saya, karena dia suka bercanda. Teman saya pun meyakinkan,

Beneran, lihat saja sendiri. Ya Allah, iri aku sama ente, Ukhti. Pasti orang tuamu bangga pas melihat itu.

”Saya kaget sekali campur senang, sedih, terharu jadi satu. Ya Allah, tak menyangka nama saya dan orang tua tertulis di sana. Alhamdulillah.

Pada waktu Tahajud saya berdoa.3Ya Allah, terima kasih. Atas kehendak-Mu, nama saya tercantum di sana. Tapi, ya Allah. Saya ingin nama saya tidak hanya terpasang di spanduk gede itu yang akhirnya dibuang. Saya ingin nama saya tertulis di sanad-Mu kelak terbuat dari emas, dan ditulis dengan tinta emas yang tidak akan terhapus, seiring berjalannya waktu sampai Kiamat kelak. Yang akan selalu dikenang sampai Akhirat kelak sebagai bukti bahwa saya bisa memberikan mahkota dan jubah kemuliaan untuk kedua orang tua saya di Jannah Firdaus-Mu, karena saya telah berhasil menjadi hafizah, serta bisa mendapatkan syafaat dan menjadi keluarga dari rasul-Mu,Muhammad SAW. Amin, Ya Rabb.

Saat berdoa saya iringi tangisan saya. Di sisi lain, saya sangat kangenkeluarga saya.

Friday, March 23, 2018

The Miracle of Du’a



Suatu ketika, jadwal saya di pesantren sedang padat. Saya pun menyempatkan waktu luang untuk beristirahat sebaik mungkin. Ketika Sholat Magrib tiba, saya bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Selesai sholat, seperti biasanya kami harus mengantre untuk mengambil makan malam. Saat itu, saya sedang malas mengantre karena masih kepikiran jatah hapalan saya untuk hari esok yang sangat banyak.

Saya memutuskan untuk menunggu sejenak di mushola sembari ‘iseng’ berdoa,

“Ya Allah, Ya Rabb. Saya lagi malas ngantre nih. Capek mikir hapalan buat besok. Akhir-akhir ini jadwal saya padat.”

Selagi ada waktu luang, sekalian nunggu antrean, saya manfaatkan untuk menghapal.

“Bantu saya, ya Allah. Biarlah dapat makanan yang terakhir. Semoga saya masih kebagian. Tolong sisakan lauknya untuk saya, ya Allah. Amin.”

Setelah berdoa, saya memanfaatkan waktu luang untuk menghapal. Setelah sekiranya antrean sudah tidak panjang, barulah saya bergegas mengambil makanan. Ketika tiba giliran saya dan ibu dapur sudah mengambilkan lauk di piring saya, tiba-tiba ibu dapur berkata,

“Eh, Ukhti. Sini ane kasih lauk satu lagi. Yang itu kaya kecil, noh. Ane kasih jadi dua.” Masya Allah, dari yang awalnya iseng berdoa meminta kepada Allah untuk menyisihkan lauk untuk saya. eh, beneran dikasih. Allahu Akbar. Saya tidak menyangka.

Esoknya, ketika makan malam tiba, saya mengambil makan seperti biasa. Ketika saya makan, tiba-tiba teman saya langsung manaruh lauknya dipiring saya,

“Tuh, buat ente. Ambil saja.” Saya pun tercengang melihat kehendak-Nya yang selalu mendengar doa-doa atau apa pun dari kita. Keesokan hari, saya mendapat lauk gratis lagi. Masya Allah. Ini baru doa iseng. Nah, bagaimana kalau doa yang sungguh-sungguh? Sudah pasti akan dijawab oleh Allah. Insya Allah. So, jangan lupa berdoa, ya.

Always pray, always remember Allah.

Thursday, March 22, 2018

Sang Inspirator


Ketika MOS masih berlangsung, saya dan teman-teman saya harus mengikuti berbagai kegiatan. Di antaranya kami harus mengumpulkan tanda tangan kakak kelas kami. Berbagai kegiatanpun berlangsung, hingga akhirnya waktu Dhuhur pun datang.

Kami bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat di aula. Setelah sholat, saya berjalan keluar meninggalkan aula. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri saya seraya berkata,

“Eh, Ukhti. Ente ya yang namanya Wening?” Saya yang kaget langsung menjawab,

“Iya, kenapa? Kok tahu nama ane? Padahal, ane kagak kenal ente.”

“Ya kenal, lah. Ente yang sering sholat di belakang imam sama yang sering jadi muazin, kan?”

“Hehe... iya. Afwan (maaf). Kalau ente siapa, ya?”

“Haha.... Ane teman i’dad ente.”

Mengapa harus sholat di belakang imam dan sering menjadi muazin, karena saya mencontoh tokoh yang selalu menginspirasi saya, yaitu ayah saya. Setiap kali saya ke masjid di dekat rumah, saya selalu melihat ayah saya sholat berada di belakang imam.

Saya pun penasaran dan akhirnya saya praktikkan di pondok. MasyaAllah, rasanya adem. Apalagi kalau imamnya ustad yang suaranya sangat merdu. Ya Allah, menetes air mata saya. Ingin balik lagi ke Tanah Suci. Tidak hanya membuat adem dan khusyuk sholat, tapi pahalanya, masyaAllah, gede banget.

Sedangkan tentang muazin, saya terisnpirasi oleh Bilal bin Rabah; seorang budak di zaman Rasulullah SAW yang pertama kali mengumandangkan azan. Suaranya sangat merdu, sampai-sampai beliau dijanjikan surga oleh Allah.

Masya Allah, karena beliau selalu ikhlas dalam hal apapun, seperti sholat dan azan. Apalagi balasan bagi seorang muazin adalah wajahnya bersinar di Akhirat kelak. Subhanallah. Saya dikenal orang hanya karena selalu sholat di belakang imam dan menjadi muazin. Mau mencoba?

Wednesday, March 21, 2018

The Holy Quran


Halaqah Dhuha berlangsung seperti biasanya. Kami punmenyetorkan tabungan hafalan kami ke ustazah. Terkadang, setiap selesai Halaqah Dhuha, ustazah kami memberikan pengalaman atau pun kisah menarik yang dapat kami ambil banyak hikmahnya. Salah satunya ini. Ustazah kami menceritakan salah seorang temannya yang ternyata sudah menjadi hafizah seperti beliau.

Suatu ketika, temannya tersebut sedang tidur. Dia sadar sedang berada di tempat yang sangat ramai. Ternyata, dia sedang mengantre untuk sebuah urusan. Namun dia bingung, dia masih heran pada tempat tersebut.

“Tempat apa ini? Kenapa antre segala? Kok yang mengantre pada nangis?”

Dia pun masih bertanya-tanya karena bingung. Karena terus kebingungan, dia bertanya kepada salah seorang yang mengantre di dekatnya.

“Maaf, tempat apaan ini? Kenapa yang mengantre pada menangis?”

“Inilah tempat pengantrean di mana kami semua akan masuk neraka,”jawab seseorang tersebut. Ia terkejut bukan main. Sontak dia langsung bertanya kepada orang tersebut.

“Apa salah saya? Kenapa bisa seperti ini? Bukannya saya sudah mengkhatamkan Al-Quran, sehingga saya menjadi seorang hafizah? Lantas siapa mereka semua ini?” bertanyalah dia masih dengan keheranan. Orang tersebut menjawab,

 “Dialah para penghapal Al-Quran yang untuk kebutuhan dunia semata.” Tercenganglah dia mendengar jawaban orang tersebut.

Terbangunlah dia dari mimpinya tersebut. Menangislah sejadi-jadinya. Dia menyadari bahwa selama ini, dia menghapal Quran hanya untuk mengejar beasiswa. Supaya bisa kuliah ke luar negeri. Dia berlari menemui ayahnya dan menceritakan semua mimpinya kepada beliau. Beristigfar dan minta ampunlah dia sebanyak-banyaknya kepada Allah setelah dia ditegur lewat mimpinya tersebut.

Nah, hikmah yang dapat kita ambil bahwa kita seorang Muslim, ketika sudah berniat untuk menghapal ayat-ayat Allah maka niatlah karena Allah semata dan untuk kedua orangtua kita. Jangan sampai menghapal hanya karena ingin mendapat gelar hafiz atau hafizah atau pun mendapat beasiswa kuliah di mana saja. Tidak hanya niat untuk menghapal Al-Quran, namun untuk semua kegiatan. Semua amal seharusnya kita niatkan untuk Allah semata.

Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada didalam bumi ini. So, jangan sampai salah niat, ya, Guys.

Tuesday, March 20, 2018

My Declaration


Saya spesial, karena saya merupakan salah satu manusia yang diberi hidayah oleh Allah SWT untuk mau dan bisa menghapal Al-Quran pada zaman yang sekarang ini. Saya spesial, karena saya memiliki pengalaman menarik. Saya pernah bersekolah di Insan Cendekia yang enggak semua orang dengan mudah bisa diterima di sekolah tersebut.

Namun sekarang, saya lebih spesial, karena saya sekolah di Darul Quran yang semua teman satu angkatan saya lebih muda dari kebanyakan. Saya seorang yang supel. Kesukaan saya dalam bercanda yang mendekatkan saya kepada teman-teman.

Semua itu dengan kesungguhan saya menghapal Al-Quran. Membuat hidup dan masa depan saya sangat berubah. Saya ingin melanjutkan kuliah di Madinah dan akan berbisnis di seluruh benua di dunia. Saat berusia 60 tahun, saya sudah memiliki 7 perusahaan besar yang bisa diakui dunia. Dari semua itu, 20 persen keuntungannya saya sedekahkan untuk membantu orang miskin dengan membangun rumah tahfid gratis berstandar internasional untuk anak kurang mampu di seluruh provinsi di Indonesia, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak lagi para penghapal Al-Quran di Indonesia.

Saya ingin menjadi businesswoman kelas dunia sekaligus ahli di bidang agama, yang akan semakin mengukuhkan saya sebagai pebisnis di dunia dan di Akhirat kelak. Amin. Semua bisnis saya akan saya optimasi dengan ilmu yang saya perolehd ari guru bisnis saya, Ippho Santosa. Sementara guru kehidupan sekaligus guru spiritual saya adalah Suwantik alias ayah saya.

Komitmen saya terhadap bisnis di luar negeri akan semakin saya tingkatkan. Dengan padatnya jadwal, saya akan mengurangi waktu tidur, bukan waktu bertemu dengan teman-teman dan mitra bisnis atau pun belajar. Hal-hal yang ingin saya hilangkan dan kurangi tahun ini adalah menunda nunda pekerjaan, bermalas-malasan, egois dan emosi berlebihan, serta melakukan hal bukan prioritas saya dan tidur berlebihan.

Adapun hal yang akan saya lakukan dan tingkatkan adalah disiplinolahraga, mengasah kemampuan bisnis, dan setiap hari senantiasa mengkhatamkan 1 juz, baik itu muroja’ah (mengulang hapalan) ataupun sekadar tilawah.

Selama di Madinah, saya akan banyak melakukan riset bisnis. Saya juga akan lebih sering bertemu dengan orang-orang bermental bisnis di seluruh dunia yang menjadi triliuner serta orang-orang yang sholehah yang meningkatkan ibadah kepada Allah Yang Maha Merajai.

Ya Allah, inilah proposal hidupku. Bimbing aku, tuntun aku. Jangan Kautinggalkan aku. Kepada-Mu aku kembali. Kepada-Mu aku mengabdi. Kepada-Mu hidupku kupersembahkan. Bantu aku mewujudkan proposal hidupku. Jadikan aku hamba-Mu yang Kaucintai. Jadikan aku hamba-Mu yang sibuk melakukan amal saleh.

Monday, March 19, 2018

The Miracle of Dhuha


Suatu ketika, saya sedang di Aula. Teman saya bercerita tentang salah satu adik kelas kami yang duduk di bangku kelas 1 SMP. Sebut saja Si A. Nah, Si A tersebut mempunyai cerita unik yang dialami oleh ayahnya.

Ayah Si A sedang berusaha mencari pekerjaan. Namun, selalu ditolak karena sering telat datang. Ayah Si A datang pukul 09.00-an sedangkan jam pelamaran kerja dilaksanakan pukul 08.00-an. Di balik keterlambatan itu, ternyata ayah Si A selalu melaksanakan Sholat Dhuha setiap mulai pukul 08.00 pagi. Masya Allah.

Hal itu selalu terjadi hingga ayah Si A ini ditolak sebanyak 7 kali berturut turut. Meski demikian, beliau pantang menyerah. Pada lamaran kerja ke-8, setelah Shalat Dhuha, beliau diterima di sebuah perusahaan, langsung menjadi manager. Masya Allah.

Setelah menjadi manager beberapa tahun, beliau pun mempunyai berbagai perusahaan, restoran, dan rumah-rumah tahfid. Tak disangka, karena beliau rajin Sholat Dhuha dan pantang menyerah, Allah memberinya jabatan yang pantas, sesuai ikhtiarnya. MasyaAllah.

Sunday, March 18, 2018

The Miracle of Al-Fatihah

Hari itu, di pondok sedang berlangsung training ESQ selama 2 hari. Ketika hari pertama berlangsung, kami disuguhi dengan melihat lebih jauh tentang ciptaan Allah dalam alam semesta ini.Baru season 1 dimulai, waktu Dhuhur datang menyambut. Kami pun beristirahat sejenak untuk Sholat Dhuhur sekaligus makan siang.

Setelah sholat, kami bergegas mengambil makan siang, karena acara akan segera dimulai. Sewaktu semuanya mengambil makan, saya memilih beristirahat sejenak di kamar. Karena, saat itu saya masih menjalankan Puasa Hajat. Ketika beristirahat di kamar, tiba-tiba ada panggilan yang terdengar memanggil nama saya.

“Panggilan. Panggilan ini ditujukan kepada Wening Nur Faizi. Diharapkan menuju ke kantor atau ke gerbang sekarang juga.”

Saya pun kaget. Mengapa siang-siang saya dipanggil ke kantor? Dan ternyata, ayah saya datang. Saya pun senang sekali. Namun saya heran. Ayah saya minggu lalu sewaktu di telepon beliau akan datang pada minggu yang akan datang. Tetapi saya ingat, saya pernah berdoa iseng, “Ya Allah, kapan ya saya dijenguk? Tapi dijenguknya tiba-tiba, Ya Allah. Biar kejutan gitu.” Eh, beneran. Saya dijenguk tanpa saya sadari. Ya inilah the miracle of du’a, again.

Setelah saya berjabat tangan dengan ayah saya, ayah saya langsung menyuruh saya bergegas ikut beliau. Sedangkan saya masih memakai seragam dan sandal jepit. Ayah saya sudah tidak punya waktu lagi. Kami harus pergi ke poliklinik di Bekasi untuk melakukan suntik vaksin. Menurut ayah saya, poliklinik tutup pukul 14.00. Sedangkan saat itu sudah menunjukkan pukul 12.45. Kami bergegas berangkat, karena kami harus mengejar waktu dengan macetnya Kota Jakarta.

Setelah kurang lebih sejam kami di dalam mobil, kami pun akhir nyasampai di tempat tujuan. Namun, jarum jam sebentar lagi menunjukkan pukul 14.00. Saya dan ayah saya memutuskan untuk berjalan kaki. Sementara sopir dari mobil yang ayah saya sewa masih menunggu macet di lampu merah yang berseberangan dengan poliklinik.

“Ayo, Al-Fatihah, Al-Fatihah. Semoga masih bisa!” seru ayah saya sembari berjalan lebih cepat. Saya pun tersenyum sembari membaca Al-Fatihah seperti seruan ayah saya. Setelah sampai di poliklinik, kami pun masuk. Namun ternyata, di ruang tunggu sudah terpampang jelas papan yang bertuliskan, ‘Tutup’. Ayah saya tetap masuk ke dalam ruang pemeriksaan yang kebetulan masih ada petugas. Setelah menjelaskan panjang lebar bahwa kami dari jauh, akhirnya petugas pun memahami dan kami akhirnya bisa suntik vaksin saat itu juga, walaupun sebenarnya, jam praktik sudah tutup. Karena Al-Fatihah yang tadi kami baca, Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar.Subhanallah. Allah Maha Mendengar lagi Maha Menghendaki. MasyaAllah.

Saturday, March 17, 2018

The Miracle of Tahajud

Ketika awal-awal saya masuk Darul Quran, kegiatan berjalan seperti biasanya. Kami bangun pukul 03.00 untuk mandi. Setelah itu,menunaikan Sholat Tahajud, walaupun tidak semuanya bangun untuk mengerjakan hal tersebut. Saya mau tidak mau harus mengerjakan hal tersebut. Karena, saya ingin berubah. Saya ingin mewujudkan cita-cita besar saya dengan ikhtiar yang besar pula. Saya pun bangun pukul 03.00.

Setelah mandi, saya turun menuju aula. Sering kali saya merasa takut karena sangat sepi. Namun saya selalu membayangkan, saya berjalan tidak sendiri. Saya berjalan di antara banyak orang yang berbondong bondong ingin mengerjakan perintah-Nya.

Ya, saya membayangkan saya berada di Tanah Suci. Sholat Tahajud saya tunaikan 11 rakaat. Alhamdulillah selalu saya paksakan untuk bisa 11 rakaat. Kenapa? Karena saya ingat dengan mimpi-mimpi besar saya. Saya berprinsip seperti apa yang diucapkan oleh Ayah pondok saya, Ustad Yusuf Mansur, “Mimpi yang besar harus diimbangi dengan ikhtiar yang besar pula.”

Setiap kali bersujud saya terkadang menangis teringat orangtua dirumah; teringat pula bahwa saya ingin pergi ke Baitullah. Saya sholawat di atas sajadah saya yang bergambar Kakbah. Ditambah berdoa, “Ya Allah, saya pengin pergi ke Tanah Suci-Mu lagi,Ya Rabb. Terserah gimana caranya, kapan saja, itu urusan-Mu nanti. Saya janji enggak seperti umroh yang dulu. Pernah menunda tawaf cuma gara-gara panas. Saya pengin umroh pas tahun baru biar bisa nyium Hajar Aswad seperti yang diceritakan teman ayah saya. Saya pengin umroh pas Ramadhan biar bisa merasakan bagaimana rasanya puasa di negara orang, apalagi di Baitullah. Saya nyesel Ya Allah dulu saya cuma dapat dua rakaat pas sholat di Raudhah-Mu, Ya Rasul. Saya kangen sama Engkau, Yaa Rabb Ya Rasul. Saya pengin selalu dekat dengan-Mu, Ya Rabb Ya Rasul. Panggil hamba dan keluarga besa rhamba untuk bisa ke Baitullah, Ya Allah. Amin.”

Saya pun nangis sesenggukan setiap kali berdoa seperti itu di waktu Tahajud. Tidak peduli teman-teman melihat saya yang menangis sampai mata bengkak. Doa saya tutup dengan membaca istigfar 100 kali, sholawat 100 kali, subhanallah wabihamdih 100 kali. Setiap kali ustad saya menjadi imam, suara beliau mirip dengan murotal murotal syeikh Timur Tengah. Meneteslah air mata saya, serasa sholat di Baitullah. Setiap kali disuruh merenung bersholawat, air mata saya pun keluar lagi. Ingin sekali saya bersholawat langsung di hadapan Rasulullah.

Minggu sore telah tiba. Saatnya saya menelepon orangtua saya. Apalagi waktu itu saya sudah lama tidak berbicara dengan ayah saya, karena beliau sedang pergi ke Jerman. Senang sekali bisa berbicara dengan beliau lagi, walaupun rasa kangen saya hanya berbalas lewat suara. Saya pun menanyakan kabar beliau, pun dengan beliau yang menanyakan kabar saya. Namun, tiba-tiba ayah saya menanyakan tentang liburan ke Jepang. Saya pun sangat senang mendengarnya dan saya pun mengiyakan ajakan ayah tesebut. Namun setelah dipertimbangkan, liburan ke Jepang kami tunda karena ada hal yang lebih penting dibandingkan. Apalagi ayah saya ingin umroh tahun ini. Tak apa, mungkin belum waktunya. Dan akhirnya, saya pun menyetujui keputusan tersebut.

Beberapa hari kemudian ketika kelas tahfid berlangsung, saya menyetorkan hapalan saya pada akhir waktu. Akhirnya tinggal saya dan ustazah di tempat tersebut. Setelah selesai, ustazah menanyakan suatu hal kesaya yang sebelumnya tidak saya ketahui sama sekali.

“Wening, kemarin ayah telepon. Cuma anti (kamu) suruh telepon baliknya lewat handphone ustazah kamarmu saja, ya?”

“Oh, iya ustazah. Enggak apa-apa. Syukron (terima kasih),” jawabsaya.

Anti mau umroh Ramadhan besok?”

Tiba-tiba ustazah bertanya seperti itu. Saya pun kaget dan langsung menjawab,

“Tidak ustazah. Ayah saya yang mau umroh, bukan saya.”

“Tapi kemarin ayah anti SMS Ustazah, menanyakan tentang perizinan pulang karena umroh lho. Ya berarti anti juga ikut umroh,” tegas ustazah.
Saya pun kaget bukan main, percaya tidak percaya. Karena liburan ke Jepang saja tidak jadi, malah diajak umroh. Ya Allah, Ya Rabb. Sujud syukur saya sewaktu Sholat Dhuha.Ya Allah, Ya Rabb. Engkau memang Allah Yang Maha Merajai dan Maha Menghendaki. Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah menjawab doa hamba yang satu ini. Hamba janji tidak mengulang kesalahan hamba sewaktu umroh dulu. Terima kasih, Ya Allah Ya Rabb.Sambil sujud saya pun menagis sejadi-jadinya.Belum ada setahun, doa saya dikabulkan, lho, teman-teman. Hanya karena rajin berdoa, Sholat Tahajud, serta diimbangi ikhtiar dengan berpuasa hajat dan sholawat.

Masya Allah, Subhanallah, wal hamdulillah. Semoga kisah saya ini dapat menginspirasi teman-teman, Insya Allah. Amin.

Friday, March 16, 2018

Kisah Seorang Koki

Siang itu, Sholat Dhuhur berjalan seperti biasa di aula. Tiba-tiba kami semua kedatangan tamu dari pusat, yakni Ustad Jameel beserta teman-teman beliau. Setelah Sholat Dhuhur, Ustad Jameel mengenalkan salah satu temannya yang berprofesi sebagai koki. Sayangnya, saya lupa nama beliau.

Si koki menceritakan pengalamannya sebagai seorang koki. Kami memerhatikannya dengan sangat antusias .Koki itu bercerita bahwa beliau lulusan SMK berjurusan koki, yang nantinya akan dikirim ke kota ataupun negara-negara lain. Beliau akhirnya dikirim ke salah satu hotel di Dubai. Beliau sangat senang.

Terkadang, beliau masih teringat ejekan salah seorang temannya, “Masa laki-laki kok jadi koki. ”Beliau menjadikan ejekan tersebut sebagai sebuah motivasi.

Setelah beberapa bulan di Dubai, beliau menjadi sangat jauh dari Allah SWT yang telah memberikan pekerjaan. Beliau juga terlilit utang yang tidak banyak jumlahnya. Setelah sekian lama, beliau lupa akan nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Beliau akhirnya bertobat, yang tadinya sudah tidak pernah sholat menjadi sholat di awal waktu. Tidak lupa Sholat Tahajud. Setiap kali beliau menunaikan Sholat Tahajud, beliau menangis sejadi-jadinya mengingat dosa yang telah ia lakukan; lupa dan jauh dari-Nya.

Beliau berusaha bekerja keras supaya utangnya cepat lunas. Tak lupa beliau berdoa memohon pertolongan dari-Nya. Setelah berjalan beberapa waktu, beliau mendengar kalau restoran tempat beliau bekerja akan ditutup. Beliau sangat kaget, karena salah satu tempat untuk memperoleh penghasilan supaya utang-utangnya terlunasi malah akan ditutup.

Selama ini, beliau berdoa, Sholat Tahajud, sholat di awal waktu, malah diberi cobaan seperti itu. Utang puluhan juta yang belum sempat terlunasi selalu terlintas di dalam pikirannya. Namun, walaupun begitu, beliau tetap Sholat Tahajud, sholat di awal waktu, selalu berdoa yang sesekali beliau menangis. Setelah ia lakukan semua itu hingga berjalan sebulan, beliau dipanggil oleh pimpinan perusahaannya. Pimpinan perusahaan berkata bahwa beliau menyerahkan perusahaannya ke koki tersebut. Beliau kaget bukan main.

Akhirnya, usaha beliau dalam Sholat Tahajud dan sholat di awal waktu, terjawab sudah. Beliau pun memimpin bisnisnya dan mendapat penghasilan berdolar-dolar.Akhirnya, beliau dapat melunasi utang-utangnya. Beliau sukses dengan bisnisnya sekarang, sehingga mempunyai bisnis restorans endiri di Dubai dengan nama Betawi Restaurant, sampai sekarang. Masya Allah.

Thursday, March 15, 2018

Gift from Allah

Husnuzon kepada Allah-lah yang membawa saya pada sebuahperjalanan spiritual luar biasa, tepatnya dua tahun sebelum Dia menghadiahi saya sebuah tiket umroh, saat saya harus belajar menerima diri dan keluarga apa adanya, dengan kekurangandan kelebihan yang ada.

Usia 20 tahun pernikahan orangtua saya, ternyata berakhir dengan perpisahan. Subhanallah, berat sekali cobaan dari-Mu, ya Allah.Ketika berjuang menyelesaikan Tugas Akhir dan masih banyak hal yang butuh dikondisikan, Alhamdulillah Allah tidak mencabut keimanan dalamdiri saya, malahan menumbuhkan keyakinan kuat bahwa situasi akanbisa dihadapi.

Pelan tapi pasti, saya lalui hari-hari dengan belajar bersyukur dan selalu berhusnuzon kepada Allah bahwa semua ini pasti bisa kami lalui. Darisinilah proses perbaikan dimulai.

Di tengah kegalauan sindrom umur 25 tahun....

Di saat banyak teman telah melepas masa lajangnya....

Ada perasaan dan pertanyaan, kapan giliran saya?
Berhusnuzon kepada Allah menjadi langkah awal yang saya ambil dengan sepenuh keimanan. Bahwa Allah ingin membersihkan dan memperbaiki diri saya, sebelum dipertemukan dengan jodoh saya. Bukankah perempuan baik-baik untuk laki-laki yang baik? Begitu pula sebaliknya.

Saya mulai misi perbaikan dengan memohon maaf kepada ibu. Selanjutnya, saya memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama adik-adikku, serta memperbaiki diri dengan memperbanyak ibadah.

Tak lupa, saya menunaikan sholat fardhu selalu tepat waktu, diikuti sholat sunah rawatib. Setiap hendak berangkat kerja, tidak lupa saya Sholat Dhuha 4 rakaat dan Sholat Hajat 2 rakaat.

Sebelum tidur, saya niatkan bangun sholat malam. Alhamdulillah, saya selalu terbangun pada sepertiga malam untuk Sholat Tahajud 2 hingga 8 rakaat, ditutup Sholat Witir.

Saat Shubuh tiba, doa Al Ma’tsurat selalu saya baca, berlanjut tilawah Al-Quran. Alhamdulillah. Saya bertahan hingga hampir satu tahun melakukan semua itu, berharap, Allah mengampuni dosa-dosa saya dan melapangkan kehidupan saya di masa depan. Ada satu kejadian yang akhirnya saya pahami sebagai bom pemicu, yang pada akhirnya membawa saya untuk bisa umroh.

Begini ceritanya....
Suatu sore, saya mendapat SMS dari teman yang saya kenal sewaktu bekerja bersama di sebuah perusahaan. Seorang Muslimah yang pintar dan cantik di mataku. Kami seumuran.

Ia memberi kabar, akan berangkat umroh. Intinya, mengabarkan keberangkatan dan menawari saya untuk menitip doa. Subhanallah. Saat itu, hati saya tergetar seperti tersambar petir. Saya sempat kaget dan terdiam beberapa saat.

Masya Allah, saya turut bahagia bercampur haru dan ada rasa iri di hati. Saya iri, pengin juga berumroh.Tapi, saat itu, saya berpikir realistis. Uang dari mana?

Tidak terlintas di kepala atau hati ini untuk umroh, apalagi haji, padahal sudah sering saya dengar ceramah Ustad Yusuf Mansur bahwa umroh dan haji bukan masalah uang, tapi azam (keinginan yang kuat).

Alhamdulillah. Dari SMS, akhirnya sebelum berangkat, kami sempat bertemu dan mengobrol, lalu saya diberi selembar brosur biro perjalanan umroh yang dijalankan ayahnya. Sepulang dari pertemuan itu, saya putuskan untuk membulatkan niat pergi umroh dan memasang brosur tersebut di kamar, tepat di samping kaca dandan.

Selang beberapa minggu, ibu masuk kamar dan melihat brosur tersebut, lalu berkomentar, “Oalah, Nduk. Ojo kegedhen empyak kurang cagak.”

Mungkin, ibu sering melihat saya Sholat Tahajud sambil mendengarisakan tangis saya. Beliau takut kalau saya kecewa, karena terlalu bermimpi.

Beliau tahu, saya sama sekali tidak memiliki uang, apalagi tabungan. “Insya Allah, Bu. Ke Makkah ndak harus pakai uang. Mungkin saya ndak punya tabungan, tapi ibu tahu persis, semua gaji saya untuk mem bantu orangtua dan adik-adik. Itu tabungan saya, Bu.”Percakapan berakhir. Ibu pun keluar kamar sambil tersenyum.

Setahu saya, satu amalan yang Allah akan membalas langsung di dunia maupun Akhirat adalah birrul walidain. Bismillah saja. Husnuzon. Berapa pun rezeki yang saya miliki, saya niatkan sebagai wujud berbakti kepada orangtua dan hanya mengharap ridho Allah.

Ceramah Ustad Yusuf Mansur banyak saya adopsi. Salah satunya, kalau ingin didekatkan jodohmu, perbaiki hubungan dengan keluarga. Alhamdulillah, hubungan dengan ibu dan adik-adik membaik ditambah bonus rezeki yang mulai lancar.

Ayah tinggal di rumah berbeda. Jadi, perlakuannya berbeda, hanya via SMS. Tapi, saya yakin, doa anak kepada orangtua tidak terhijab. Kondisi rumah dan keuangan keluarga saya pun membaik. Alhamdulillah.Setelah memantapkan hati dan meluruskan niat untuk berangkat umroh, saya berniat membuat paspor, hitung-hitung menyicil. Alhamdulillah,ada sedikit uang untuk apply paspor dan lancar.

Saat sesi wawancara, saya ditanya, “Buat paspor mau ke mana, Mbak?” Saya jawab, “Umroh, Pak.”Padahal, saat itu, belum ada uang atau tabungan. Hanya ada niat. Saat itu Bulan November 2012. Saya tetap husnuzon.

Desember, ayah saya mendapat rezeki. Seperti biasa, ayah mendapat bonus sebagai pelatih. Ketika itu, ada acara Para Games di Thailand. Saya memberanikan diri untuk nembung utang. Begini kira-kira percakapansaya dengan ayah.“Yah, saya pengin umroh.” Wajah ayah terlihat datar.“Lha biayane pira?” (Biayanya berapa?)“18 juta. Saya pinjam boleh, Yah? Gantinya, motor saya dijual saja, ndak apa-apa.” Hening sejenak.

Ngajak Embah umroh sisan, gelem?” (Ajak Nenek umroh sekalian,mau?)Maknyes rasanya.

Purun, Yah.” (Mau, Yah)

Alhamdulillah disetujui. Saya langsung diberi uang Rp38 juta. Saya mendapatkannya tanpa menabung. Sifat Al-Ghaffar Allah saya rasakan. Setelah merasa menjadi manusia paling berdosa, lalu melakukan perbaikan ibadah, saya mengajukan proposal kepada-Nya di setiap akhir sholat.

Saya berdoa, “Ya Allah, jika engkau menerima tobat dan ibadah saya, izinkan saya benar-benar bertobat dan beribadah di Baitullah-Mu.”

Alhamdulillah, inilah hadiah terbesar dari Allah.Allah berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akanmendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari”. (HR. Bukhari-Hadits Qudsi)

Subhanallah.